Harga Bahan Baku Plastik Melonjak, Industri Cari Alternatif

- Harga barang jadi plastik melonjak akibat kenaikan harga nafta yang seluruhnya diimpor dari Timur Tengah, dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
- Inaplas memprediksi terbentuknya harga baru untuk nafta seperti pola krisis 1998 dan 2008, sambil mencari alternatif pemasok dari Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika meski biaya logistik meningkat.
- Inaplas juga menjajaki bahan baku lokal seperti kondensat, LPG, atau propana serta mendorong penggunaan plastik daur ulang guna mengurangi ketergantungan pada impor nafta.
Jakarta, IDN Times - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) mengakui adanya lonjakan harga barang jadi plastik sejak pekan lalu. Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono mengatakan lonjakan harga barang jadi plastik disebabkan kenaikan harga nafta (bahan baku plastik), akibat konflik di Timur Tengah.
“Indonesia itu 100 persen masih impor nafta. Di mana nafta ini 70 persen berasal dari Middle East. Sehingga di minggu ketiga ini kita terjadi kelangkaan,” kata Fajar saat dihubungi IDN Times, Senin (6/4/2026).
1. Bakal terbentuk harga baru

Inaplas melihat bakal terbentuk harga baru bagi nafta sebagai bahan baku penting industri plastik. Dia mengatakan, harga bahan baku plastik sempat membentuk ekuilibrium baru saat krisis moneter pada 1998, dan krisis keuangan global pada 2008.
“Mudah-mudahan polanya sama seperti di 2008 dan 1998, sehingga nanti pada saat selesai ini akan terjadi ketidakseimbangan,” tutur Fajar.
2. Inaplas cari alternatif pemasok nafta selain Timur Tengah

Selain harga nafta melonjak, pihaknya juga kesulitan mencari pasokan nafta di negara-negara Timur Tengah karena konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Oleh sebab itu, Inaplas berupaya mencari negara alternatif pemasok nafta.
“Di minggu kelima itu kita sudah mulai mencari alternatif masukan nafta di luar Middle East. Bisa dari Afrika, bisa dari Asia Tengah maupun dari Amerika,” tutur Fajar.
Meski begitu, upaya tersebut masih akan menyebabkan kenaikan harga, karena biaya pengiriman yang harus ditanggung lebih besar.
“Kalau dari Middle East ke Indonesia itu waktu pengiriman hanya 10 sampai 15 hari. Nah yang dari sumber di luar Middle East itu paling cepat adalah 50 hari. Sehingga supply chain akan berubah, karena waktu pengiriman berubah. Kemudian ongkos juga berubah, asuransi juga berubah, semuanya serba berubah,” ujar Fajar.
3. Inaplas cari bahan baku di dalam negeri

Selain menjadi alternatif nafta di negara lain, Inaplas juga berupaya mencari pengganti bahan baku di dalam negeri.
“Ya pengganti nafta ini bisa dari kondensat, bisa dari LPG atau propana. Nah kalau dari kondensat sepertinya di Indonesia ada,” tutur Fajar.
Dia berharap pemerintah bisa membantu memetakan bahan baku alternatif yang bisa digunakan untuk memproduksi plastik.
“Nanti tinggal kita bantuan ke pemerintah untuk kira-kira kondensat mana yang bisa kita gunakan, dan berapa volumenya, sehingga nanti bisa sedikit menambah kekurangan pasokan nafta yang selama ini sudah mulai langka,” ucap Fajar.
Di sisi lain, Inaplas juga mendorong industri daur ulang plastik bisa mengoptimalkan hasil daur ulangnya, sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku plastik.
“Kalau selama ini masih menggunakan 100 persen virgin material plastik, sudah saatnya untuk mulai menggunakan campuran dengan recycle plastik. Jadi bisa mix antara 80 persen virgin, 20 persen recycle. Kenapa? Karena sebenarnya industri recycle di Indonesia masih undercapacity,” ujar Fajar.


















