Ketika pasar saham bergejolak, investor perlu mempertimbangkan kembali risiko yang ada dalam portofolionya. Salah satu strategi yang kerap dibahas adalah memilih saham defensif, yaitu saham perusahaan yang menyediakan barang atau jasa dengan permintaan relatif stabil dalam berbagai kondisi ekonomi. Strategi ini menarik karena perusahaan tersebut cenderung tidak terlalu bergantung pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Meski demikian, saham defensif bukan berarti investasi yang bebas dari kerugian. Harga sahamnya tetap bisa turun akibat perubahan suku bunga, penurunan kinerja perusahaan, atau sentimen pasar secara keseluruhan. Lantas, strategi investor beralih ke saham defensif ini efektif ketika pasar sedang bergejolak?
