Investor Global Lirik Sukuk, BI Sebut Pasarnya Masih Luas

- BI mencatat minat investor global terhadap sukuk meningkat di tengah ketidakpastian, karena instrumen syariah dinilai relatif stabil dan memiliki aset dasar.
- Indonesia memperluas akses pasar sukuk global melalui green sukuk; akumulasi penerbitan global mencapai 7,7 miliar dolar AS, sementara penerbitan domestik Rp108,9 triliun.
- Outstanding SBSN per 30 September 2026 mencapai Rp1.818,56 triliun atau 20,29 persen total SBN, sehingga BI melihat ruang besar untuk diversifikasi instrumen syariah.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan minat investor global terhadap instrumen keuangan syariah, khususnya sukuk, semakin meningkat di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar surat utang berbasis syariah.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pergeseran preferensi investor tidak terlepas dari karakteristik produk keuangan syariah yang relatif stabil karena memiliki aset dasar (underlying asset).
"Memang sekarang bergeser, banyak dari investor juga bergeser, dan biasanya produk keuangan syariah itu relatif stabil, karena dia punya underlying-nya," ujar Destry dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
1. Penerbitan green sukuk sudah mencapai Rp108,9 triliun

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama) Untuk menangkap peluang tersebut, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui penerbitan sukuk global. Salah satunya melalui instrumen green sukuk yang telah diterbitkan sejak 2018.
Green Sukuk merupakan salah satu instrumen pembiayaan tematik yang diterbitkan Pemerintah Indonesia yang berfokus pada pembiayaan proyek-proyek hijau dan berkelanjutan. Sesuai namanya pula, Green Sukuk diterbitkan dengan prinsip-prinsip syariah.
Destry menyebutkan, akumulasi penerbitan green sukuk Indonesia di pasar global telah mencapai 7,7 miliar dolar AS.
"Penerbitan green sukuk di pasar domestik telah mencapai Rp108,9 triliun," ucapnya.
2. Porsi instrumen syariah masih terbatas

Ilustrasi Obligasi Syariah. (IDN Times/Aditya Pratama) Meski demikian, porsi instrumen syariah dalam pembiayaan pemerintah masih relatif terbatas dibandingkan dengan total Surat Berharga Negara (SBN).
Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk memperbesar kontribusi sukuk di pasar keuangan domestik.
3. Outstanding Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai Rp1.818,56 triliun

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama) Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, outstanding Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai Rp1.818,56 triliun per 30 September 2026. Nilai tersebut terdiri atas SBSN yang dapat diperdagangkan (tradable) sebesar Rp1.714,06 triliun dan SBSN yang tidak dapat diperdagangkan (non-tradable) sebesar Rp104,49 triliun.
Dengan nilai tersebut, outstanding SBSN setara 20,29 persen dari total outstanding SBN pemerintah yang mencapai Rp8.962,39 triliun. Artinya, instrumen surat utang konvensional masih mendominasi portofolio utang pemerintah.
"Kalau dibandingkan dengan total bonds yang diterbitkan oleh pemerintah, porsinya relatif masih kecil, sehingga masih banyak ruang yang terbuka," kata Destry.
Untuk memperluas pasar keuangan syariah, Destry mendorong para pemangku kepentingan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Syariah Nasional (DSN), untuk memperkuat sinergi dalam mengembangkan instrumen syariah yang lebih beragam. Diversifikasi instrumen diharapkan dapat memperluas pilihan investasi bagi investor sekaligus meningkatkan daya tarik pasar keuangan syariah Indonesia di tengah perubahan preferensi investor global.






















