Pemerintah Jepang melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) kini gencar mendorong perusahaan dalam negerinya untuk menjalin kerja sama tambang mineral penting di wilayah barat. Langkah ini didukung dengan kucuran dana besar untuk proyek pencarian dan pengolahan logam tanah jarang bersama negara sahabat seperti Prancis, Australia, dan Kanada. Upaya tersebut bertujuan agar industri otomotif dan elektronik Jepang memiliki pasokan bahan baku yang stabil tanpa harus bergantung pada pabrik pengolahan di China, yang saat ini menguasai hampir 90 persen pasar dunia.
Strategi ini mencakup pendanaan untuk berbagai proyek besar, mulai dari pertambangan litium di Ontario, Kanada, hingga pengembangan tambang di dasar laut sekitar Pulau Minamitorishima. Dalam sebuah pertemuan di Toronto, Direktur Divisi Amerika di METI, Hiroyuki Hatada, menjelaskan bahwa meski biaya produksi dari proyek alternatif ini mungkin lebih mahal, perusahaan kini lebih mengutamakan keamanan pasokan daripada sekadar harga murah.
"Meskipun harganya bukan yang termurah, industri kini sudah sadar akan risiko pasokan. Jadi, beralih ke proyek ini adalah pilihan yang bijak," ujar Hatada, dikutip dari Yahoo Finance.
Keberhasilan rencana ini juga didukung oleh aliansi investasi yang dipimpin Kanada, yang telah mengumpulkan dana sebesar 12,1 miliar dolar Kanada (Rp151,1 triliun) untuk membiayai puluhan proyek baru. Kerja sama ini melibatkan perusahaan teknologi besar seperti Apple untuk menciptakan sistem industri yang mandiri dan tahan terhadap permainan harga pasar. Dengan adanya bantuan dana dan janji pembelian jangka panjang, proyek-proyek di Kanada dan negara sekutu lainnya diharapkan mampu bersaing secara sehat. Hal ini sangat penting untuk mendukung pembuatan baterai mobil listrik serta peralatan canggih untuk kebutuhan militer dan luar angkasa di masa depan.