Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jepang, Prancis, Kanada Bentuk Aliansi Mineral Mandiri di Luar Blok AS
Bendera Prancis (freepik.com/user6702303)
  • Jepang, Prancis, dan Kanada membentuk aliansi baru untuk mengamankan pasokan logam tanah jarang di luar pengaruh AS dan China, demi menjaga kedaulatan industri masa depan.
  • Kerja sama ini mencakup pendanaan besar, proyek tambang lintas negara, serta kebijakan lingkungan ketat guna memastikan rantai pasok mineral yang aman dan berkelanjutan.
  • Kanada memimpin pembentukan Aliansi Produksi Mineral Kritis dengan dukungan global untuk menciptakan sistem perdagangan mineral yang adil dan mandiri dari dominasi pasar China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jepang, Prancis, dan Kanada resmi merancang aliansi strategis baru untuk mengamankan pasokan logam tanah jarang. Kerja sama ini dibentuk di luar kelompok perdagangan pimpinan Amerika Serikat (AS) guna menjamin ketersediaan bahan baku industri masa depan. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi ketergantungan besar pada China, yang saat ini menguasai lebih dari 90 persen pasar global.

Rencana kerja sama ini mencakup berbagai bantuan nyata, seperti pemberian subsidi tambang bagi perusahaan-perusahaan di wilayah barat. Fokus utama mereka adalah membangun jalur pasokan yang aman dan jujur untuk mendukung teknologi tinggi, seperti mobil listrik, alat pertahanan canggih, dan barang elektronik. Melalui langkah ini, ketiga negara ingin menjaga kedaulatan industri mereka dari tekanan monopoli pihak luar yang bisa mengganggu ekonomi dunia.

1. Jepang dan Kanada bekerja sama amankan pasokan mineral dunia untuk kurangi ketergantungan pada China

Pemerintah Jepang melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) kini gencar mendorong perusahaan dalam negerinya untuk menjalin kerja sama tambang mineral penting di wilayah barat. Langkah ini didukung dengan kucuran dana besar untuk proyek pencarian dan pengolahan logam tanah jarang bersama negara sahabat seperti Prancis, Australia, dan Kanada. Upaya tersebut bertujuan agar industri otomotif dan elektronik Jepang memiliki pasokan bahan baku yang stabil tanpa harus bergantung pada pabrik pengolahan di China, yang saat ini menguasai hampir 90 persen pasar dunia.

Strategi ini mencakup pendanaan untuk berbagai proyek besar, mulai dari pertambangan litium di Ontario, Kanada, hingga pengembangan tambang di dasar laut sekitar Pulau Minamitorishima. Dalam sebuah pertemuan di Toronto, Direktur Divisi Amerika di METI, Hiroyuki Hatada, menjelaskan bahwa meski biaya produksi dari proyek alternatif ini mungkin lebih mahal, perusahaan kini lebih mengutamakan keamanan pasokan daripada sekadar harga murah.

"Meskipun harganya bukan yang termurah, industri kini sudah sadar akan risiko pasokan. Jadi, beralih ke proyek ini adalah pilihan yang bijak," ujar Hatada, dikutip dari Yahoo Finance.

Keberhasilan rencana ini juga didukung oleh aliansi investasi yang dipimpin Kanada, yang telah mengumpulkan dana sebesar 12,1 miliar dolar Kanada (Rp151,1 triliun) untuk membiayai puluhan proyek baru. Kerja sama ini melibatkan perusahaan teknologi besar seperti Apple untuk menciptakan sistem industri yang mandiri dan tahan terhadap permainan harga pasar. Dengan adanya bantuan dana dan janji pembelian jangka panjang, proyek-proyek di Kanada dan negara sekutu lainnya diharapkan mampu bersaing secara sehat. Hal ini sangat penting untuk mendukung pembuatan baterai mobil listrik serta peralatan canggih untuk kebutuhan militer dan luar angkasa di masa depan.

2. Prancis ajak Jepang dan mitra global amankan stok mineral melalui aturan kuota dan kerja sama luas

Pemerintah Prancis mengusulkan aturan baru berupa batas jumlah impor atau kuota untuk logam tanah jarang tertentu. Perusahaan di sektor industri penting juga diwajibkan untuk mencari sumber pasokan dari berbagai negara agar tidak lagi bergantung hanya pada China. Langkah ini diambil untuk mendorong investasi di wilayah tambang baru dan memperkuat ekonomi nasional. Prancis lebih memilih kerja sama terbuka yang melibatkan banyak negara, atau disebut G7 plus, daripada kelompok perdagangan tertutup yang diusulkan oleh AS.

Benjamin Gallezot, selaku utusan khusus Prancis untuk mineral strategis, menyatakan bahwa pendekatan yang luas sangatlah penting bagi stabilitas pasar.

"Menurut kami, tidak ada aturan tunggal yang bisa berlaku bagi semua. Hal ini harus dibicarakan bersama lebih banyak negara, tidak hanya anggota G7, tetapi juga negara mitra lainnya," ujar Gallezot.

Selain itu, Prancis dan Jepang kini semakin erat bekerja sama dalam menyiapkan cadangan darurat nasional. Hal ini dilakukan sebagai tanggapan cepat atas langkah China yang mulai membatasi ekspor bahan baku penting untuk pembuatan perangkat teknologi canggih.

Kebijakan ini juga mengatur standar lingkungan dan sosial yang ketat bagi mineral yang masuk ke pasar internasional. Dengan aturan ini, produk yang diproses dengan cara merusak lingkungan atau melanggar hak asasi manusia akan sulit untuk dipasarkan. Selain menambang, pemerintah juga mendorong program daur ulang mineral yang diperkirakan bisa mengurangi kebutuhan tambang baru hingga 30 persen di masa depan. Upaya ini diharapkan dapat menghidupkan kembali industri dalam negeri dan menjaga keamanan nasional melalui sistem ekonomi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

3. Kanada pimpin pembentukan aliansi mineral dunia untuk kurangi ketergantungan pada China

Kanada memelopori pembentukan sebuah kerja sama yang disebut Aliansi Produksi Mineral Kritis. Kerja sama ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan negara-negara besar agar bisa memberikan jaminan pembelian yang stabil bagi para produsen mineral di seluruh dunia. Langkah tersebut diharapkan dapat menarik investasi jangka panjang untuk membangun pabrik pengolahan mineral yang mandiri di luar China. Inisiatif ini juga telah mendapat dukungan resmi dari Australia, sehingga menciptakan kelompok kuat yang menghubungkan negara kaya sumber daya dengan negara maju yang memiliki teknologi tinggi.

Aliansi ini berupaya menetapkan standar harga yang adil untuk melindungi para penambang dari ketidakpastian harga pasar yang sering menghambat pembangunan tambang baru di wilayah barat. Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Kanada, Tim Hodgson, menekankan bahwa kerja sama ini adalah jalan terbaik untuk mengakhiri penguasaan pasar oleh pihak tertentu.

"Kanada percaya bahwa cara terbaik untuk mengatasi masalah konsentrasi pasokan mineral kritis adalah melalui aliansi produksi," ujar Hodgson.

Saat ini, dana yang terkumpul telah mencapai 18,5 miliar dolar Kanada (Rp231,1 triliun) untuk mendukung berbagai proyek penting, seperti pusat pengolahan litium dan tempat daur ulang logam di Ontario.

Selain memperkuat industri negara-negara maju, aliansi ini juga memberikan bantuan dana sebesar 10 juta dolar Kanada (Rp124,9 miliar) untuk negara-negara berkembang. Bantuan ini bertujuan agar negara-negara tersebut bisa mengolah kekayaan mineral mereka sendiri menjadi barang jadi, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Dengan gabungan dukungan dana, teknologi baru, dan kerja sama internasional, Jepang, Prancis, dan Kanada tengah membangun aturan ekonomi baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team