Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Bentuk Program Cadangan Mineral Rp201,2 T untuk Industri AS

Trump Bentuk Program Cadangan Mineral Rp201,2 T untuk Industri AS
Ilustrasi Donald Trump (commons.m.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya sih...
  • Trump luncurkan Project Vault dalam acara di Ruang Oval
  • Project Vault didanai pinjaman EXIM dan modal swasta
  • Trump kaitkan cadangan mineral dengan ketegangan dagang dan agenda diplomasi AS
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan rencana pembentukan cadangan strategis mineral kritis dengan nilai hampir 12 miliar dolar AS (Rp201,2 triliun) untuk memperkuat ketahanan rantai pasok industri nasional AS. Kebijakan ini mencakup dukungan pendanaan awal dan ditujukan untuk memastikan ketersediaan mineral penting bagi sektor-sektor strategis ketika terjadi gangguan pasar.

Program yang dinamai Project Vault tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan mineral yang selama ini banyak diproses atau dipasok melalui rantai pasok yang didominasi China, sekaligus menekan risiko kelangkaan bahan baku bagi industri.

1. Trump luncurkan Project Vault dalam acara di Ruang Oval

Presiden Donald Trump mengumumkan peluncuran Project Vault dalam acara di Ruang Oval, Gedung Putih. Dalam pernyataannya, ia menegaskan, industri AS berulang kali menghadapi kerentanan pasokan ketika terjadi gejolak pasar, termasuk risiko kekurangan mineral kritis yang dibutuhkan berbagai sektor strategis.

Pada kesempatan yang sama, Trump menyatakan, Project Vault ditujukan untuk memastikan ketersediaan pasokan mineral kritis tetap terjaga bagi industri dan tenaga kerja di AS, terutama saat terjadi kelangkaan atau hambatan distribusi.

“Hari ini, kami meluncurkan yang akan dikenal sebagai Project Vault agar bisnis dan pekerja Amerika tidak pernah dirugikan oleh kelangkaan apa pun,” ujar Trump, dilansir Fox Business.

2. Project Vault didanai pinjaman EXIM dan modal swasta

Skema pendanaan Project Vault mencakup pinjaman sebesar 10 miliar dolar AS (Rp167,7 triliun) dari U.S. Export-Import Bank (EXIM) serta tambahan modal dari sektor swasta, sehingga total dana awal program ini diperkirakan mendekati 12 miliar dolar AS (Rp201,2 triliun). AS menyatakan, cadangan strategis mineral kritis tersebut disiapkan untuk membantu berbagai industri, termasuk otomotif dan elektronik, serta mengantisipasi risiko terputusnya pasokan mineral penting ketika terjadi gangguan pasar.

Pemerintah AS juga menegaskan, Project Vault akan berjalan seiring dengan langkah memperkuat kapasitas pemrosesan mineral di dalam negeri agar ketergantungan rantai pasok dapat dikurangi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menekankan arti penting kemampuan manufaktur nasional, termasuk penciptaan kembali komponen strategis.

“Ini adalah magnet pertama yang dibuat di AS dalam 25 tahun. Kami mengakhiri ‘cekikan’ China atas rantai pasok kami,” kata Bessent, dilansir Associated Press.

3. Trump kaitkan cadangan mineral dengan ketegangan dagang dan agenda diplomasi AS

Pembentukan cadangan strategis mineral kritis melalui Project Vault dilatarbelakangi kekhawatiran pemerintah AS terhadap dampak ketegangan dagang dan potensi pembatasan ekspor mineral tertentu yang dapat mengganggu pasokan. Mineral tanah jarang dan mineral kritis lainnya dinilai vital bagi berbagai sektor strategis, termasuk teknologi, industri pertahanan, dan kendaraan listrik, sehingga gangguan pasokan berisiko langsung memukul produksi dan investasi di dalam negeri.

Dalam penjelasannya, Presiden Donald Trump merujuk pengalaman negosiasi dan ketegangan sebelumnya sebagai alasan perlunya cadangan strategis.

“Kami tidak ingin mengalami lagi apa yang kami alami setahun lalu,” ujar Trump.

Sejalan dengan langkah tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan isu mineral kritis juga akan dibahas dalam forum tingkat menteri di Washington, sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi dengan negara mitra untuk mengamankan akses pasokan. Dalam pernyataan resminya, Departemen Luar Negeri AS menegaskan pertemuan itu akan menciptakan momentum untuk kolaborasi di antara negara peserta, dengan tujuan memperkuat kerja sama dan ketahanan rantai pasok mineral penting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Pertumbuhan Ekonomi Berpeluang Tembus 8 Persen pada 2029

03 Feb 2026, 21:42 WIBBusiness