Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)
Ekonom Universitas Negeri Manado (UNIMA), Robert Winerungan. Ia menilai kenaikan harga Pertamax merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kesehatan APBN di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
"Pemerintah berupaya mengurangi beban APBN karena Pertamax sebenarnya merupakan BBM yang tidak seharusnya mendapat intervensi pemerintah. Yang memang mendapat campur tangan pemerintah adalah Pertalite. Jadi pemerintah mengurangi beban APBN dengan menaikkan harga RON 92," ujar Robert dalam keterangannya.
Selain mengurangi tekanan fiskal, Robert menilai penyesuaian harga Pertamax juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan harga BBM domestik dengan negara-negara tetangga. Menurut dia, disparitas harga yang terlalu lebar berpotensi membuka peluang penyalahgunaan dan perdagangan ilegal BBM yang merugikan negara.
Di sisi lain, ia memperkirakan dampak ekonomi dari kenaikan Pertamax relatif terbatas dibandingkan apabila pemerintah menaikkan harga Pertalite atau Solar. Pasalnya, mayoritas pengguna Pertamax berasal dari kelompok masyarakat menengah dan pemilik kendaraan dengan spesifikasi yang lebih baru.
"Saya kira dampaknya tidak terlalu besar. Sebagian besar masyarakat menengah ke bawah sudah menggunakan Pertalite. Karena itu saya yakin pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Pertamax atau RON 92 umumnya digunakan oleh kendaraan-kendaraan yang lebih baru," katanya.
Sebagai perbandingan, Indonesia masih termasuk negara dengan harga BBM yang relatif rendah di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data Trading Economics periode Maret-April 2026 yang dikonversi menggunakan kurs Rp 18.100 per dolar AS, harga BBM di Singapura mencapai sekitar Rp43.100 per liter, Filipina Rp27.500 per liter, serta Kamboja dan Thailand masing-masing Rp22.600 per liter.
Sementara itu, setelah penyesuaian menjadi Rp16.250 per liter, harga Pertamax masih lebih rendah dibandingkan harga bensin di Singapura, Filipina, Kamboja, dan Thailand. Adapun Malaysia tetap menjadi negara dengan harga BBM termurah di kawasan, yakni sekitar Rp9.100 per liter.