Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Perlu Dipahami soal Revenue-Based Financing untuk Bisnis

5 Hal yang Perlu Dipahami soal Revenue-Based Financing untuk Bisnis
ilustrasi menghitung keuangan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Share Article

Mencari pendanaan untuk mengembangkan bisnis gak selalu harus melalui pinjaman bank atau melepas sebagian kepemilikan perusahaan. Ada alternatif yang memungkinkan bisnis memperoleh modal dengan membayar kembali pendanaan berdasarkan persentase pendapatan yang dihasilkan. Model ini dikenal sebagai revenue-based financing dan mulai menarik perhatian pelaku usaha yang ingin bertumbuh dengan skema pembayaran yang lebih fleksibel.

Meski terdengar sederhana, skema pendanaan ini tetap memiliki mekanisme dan konsekuensi yang perlu dipahami secara matang. Besaran pembayaran dapat mengikuti performa pendapatan bisnis sehingga karakteristiknya berbeda dari cicilan tetap pada pinjaman konvensional. Sebelum menjadikannya pilihan, yuk pahami lima hal penting tentang revenue-based financing agar keputusan pendanaan bisnis terasa lebih terukur.

1. Pendanaan dibayar berdasarkan pendapatan bisnis

ilustrasi konsultasi keuangan
ilustrasi konsultasi keuangan (pexels.com/AlphaTradeZone)

Revenue-based financing merupakan skema pendanaan yang memungkinkan bisnis memperoleh modal dari pihak penyedia dana tanpa harus menyerahkan kepemilikan perusahaan. Sebagai gantinya, bisnis perlu membayar kembali dana tersebut melalui persentase tertentu dari pendapatan yang diperoleh. Artinya, jumlah pembayaran dapat berubah mengikuti kondisi pemasukan bisnis pada periode tertentu.

Skema seperti ini membuat beban pembayaran terasa lebih fleksibel ketika pendapatan sedang menurun. Saat pemasukan lebih kecil, nilai pembayaran biasanya ikut menyesuaikan sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Namun, ketika pendapatan meningkat, jumlah pembayaran juga dapat menjadi lebih besar sehingga bisnis tetap perlu memiliki perencanaan arus kas yang matang.

2. Kepemilikan bisnis gak perlu dilepas

ilustrasi pria presentasi
ilustrasi pria presentasi (pexels.com/Matheus Bertelli)

Salah satu daya tarik utama revenue-based financing adalah pemilik bisnis gak perlu memberikan sebagian saham kepada penyedia dana. Hal ini berbeda dari pendanaan berbasis ekuitas yang biasanya membuat investor memperoleh kepemilikan dan hak tertentu dalam perusahaan. Dengan begitu, pemilik usaha tetap dapat mempertahankan kendali atas arah bisnis yang sedang dikembangkan.

Bagi pendiri yang ingin menjaga struktur kepemilikan dalam jangka panjang, skema ini bisa menjadi alternatif yang menarik. Pemilik bisnis gak perlu khawatir keputusan strategis perusahaan ikut dipengaruhi oleh investor baru. Meski begitu, kewajiban pembayaran berdasarkan pendapatan tetap perlu diperhitungkan agar pertumbuhan bisnis gak terganggu oleh beban finansial yang terlalu besar.

3. Cocok untuk bisnis yang sudah memiliki pendapatan

ilustrasi bisnis online
ilustrasi bisnis online (pexels.com/Kampus Production)

Skema revenue-based financing umumnya lebih sesuai untuk bisnis yang telah memiliki aliran pendapatan yang cukup konsisten. Penyedia dana perlu melihat kemampuan bisnis dalam menghasilkan pemasukan karena pembayaran kembali bergantung pada pendapatan tersebut. Karena itu, usaha yang masih berada pada tahap ide atau belum memiliki pendapatan biasanya akan menghadapi tantangan lebih besar untuk memperoleh pendanaan jenis ini.

Bisnis dengan riwayat pendapatan yang jelas biasanya memiliki posisi yang lebih kuat saat mengajukan pendanaan. Data penjualan, pertumbuhan pemasukan, dan kestabilan arus kas dapat menjadi pertimbangan penting dalam proses penilaian. Semakin mudah performa bisnis dipahami melalui data, semakin besar pula peluang untuk menentukan skema pendanaan yang sesuai dengan kemampuan usaha.

4. Total biaya pendanaan perlu dihitung secara cermat

ilustrasi uang
ilustrasi uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Walaupun gak menggunakan sistem bunga seperti pinjaman tradisional, revenue-based financing tetap memiliki biaya yang perlu diperhatikan. Penyedia dana biasanya menetapkan jumlah pengembalian total yang lebih besar dari modal awal sesuai kesepakatan. Karena pembayaran dilakukan berdasarkan persentase pendapatan, pelaku usaha perlu memahami berapa besar dana yang pada akhirnya harus dikembalikan.

Kesalahan dalam menghitung biaya pendanaan dapat membuat bisnis merasa terbebani saat pendapatan mulai meningkat. Persentase pembayaran yang terlihat kecil bisa memiliki dampak besar jika diterapkan dalam jangka waktu panjang. Oleh sebab itu, pemilik bisnis perlu membandingkan total biaya, durasi pembayaran, dan proyeksi pendapatan sebelum menyepakati perjanjian pendanaan.

5. Arus kas tetap perlu dikelola secara disiplin

ilustrasi mengatur keuangan
ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Memperoleh modal tambahan gak otomatis membuat kondisi keuangan bisnis menjadi lebih aman. Sebagian pendapatan tetap harus dialokasikan untuk membayar kewajiban kepada penyedia dana sesuai perjanjian yang berlaku. Jika pengelolaan arus kas kurang disiplin, bisnis dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan operasional meskipun penjualan terlihat meningkat.

Pengusaha perlu membuat proyeksi pendapatan dan pengeluaran secara realistis sebelum menggunakan skema pendanaan ini. Dana yang diperoleh juga sebaiknya digunakan untuk aktivitas yang berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis secara terukur. Dengan perencanaan yang tepat, revenue-based financing dapat menjadi alat pendanaan yang membantu bisnis berkembang tanpa harus langsung melepas kepemilikan perusahaan.

Revenue-based financing dapat menjadi alternatif pendanaan menarik bagi bisnis yang sudah memiliki pendapatan dan ingin berkembang tanpa melepas kepemilikan. Fleksibilitas pembayaran menjadi salah satu keunggulan, tetapi biaya serta kewajiban jangka panjang tetap perlu diperhitungkan. Dengan memahami mekanismenya secara menyeluruh, pelaku usaha dapat menentukan apakah skema ini benar-benar sesuai dengan kondisi dan tujuan bisnis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More