ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Perbedaan kebijakan antara Trump dan The Fed terlihat jelas setelah bank sentral menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. The Fed menyatakan inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2 persen. Proyeksi terbaru juga menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed masih memperkirakan adanya satu kenaikan suku bunga lagi pada 2026.
Trump justru menginginkan arah kebijakan yang berlawanan dengan meminta suku bunga berada di 1 persen atau lebih rendah. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter tidak hanya berkaitan dengan keinginan membuat pinjaman lebih murah, tetapi juga harus mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kondisi pasar.
Dalam sistem Federal Reserve, keputusan suku bunga dibuat oleh Federal Open Market Committee berdasarkan penilaian terhadap kondisi ekonomi. Sementara Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, independensi bank sentral berarti The Fed tetap berada dalam kewenangannya sendiri.
Keinginan Trump agar suku bunga turun berkaitan dengan pandangannya bahwa bunga yang lebih rendah dapat mendukung investasi dan membuat biaya pembiayaan lebih ringan. Sementara itu, The Fed memilih menaikkan suku bunga karena masih menghadapi tekanan inflasi dan menilai kebijakan yang lebih ketat diperlukan untuk mencapai target inflasi. Perbedaan pandangan tersebut membuat arah suku bunga AS tetap menjadi perhatian karena keputusannya dapat memengaruhi perekonomian Amerika Serikat dan pasar keuangan global.