Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

The Fed Naikkan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Pasar Keuangan Indonesia

3 min read
The Fed Naikkan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Pasar Keuangan Indonesia
ilustrasi The Fed (pexels.com/Markus Winkler)
  • The Fed menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75-4 persen, pertama sejak Juli 2023, serta membuka peluang kenaikan lanjutan sesuai proyeksi median 4,1 persen pada akhir 2026.
  • Kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar berpotensi menekan rupiah serta membuat arus modal ke Indonesia lebih selektif dan volatil, meski yield differential domestik masih menarik.
  • BI diperkirakan menahan suku bunga 5,75 persen pada RDG September dengan intervensi pasar dan cadangan devisa; kenaikan pre-emptive mungkin dipertimbangkan jika tekanan rupiah berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen-4 persen berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dilakukan The Fed sejak Juli 2023. Dalam keputusan terbarunya, The Fed juga masih membuka ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Proyeksi terbaru menunjukkan median suku bunga acuan The Fed pada akhir 2026 berada di sekitar 4,1 persen, yang mengindikasikan potensi satu kali kenaikan tambahan tahun ini.

Lead Economist Danamon Irman Faiz mengatakan, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS. Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi bertahan.

"Untuk kenaikan Fed 25 bps ke 3,75 persen-4 persen memang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia. Apalagi dot plot terbaru menunjukkan median Fed Funds Rate akhir 2026 di 4,1 persen, yang mengindikasikan masih ada ruang satu kali kenaikan lagi," ujar Irman kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).

  1. 1. Investor global akan lebih selektif taruh dananya di negara berkembang

    Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

    Menurutnya, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS dan penguatan dolar AS juga dapat membuat investor global lebih selektif dalam menempatkan dananya di negara berkembang. Meski demikian, Irman menilai, Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing karena menawarkan selisih imbal hasil (yield differential) yang relatif menarik.

    "Ini berpotensi mendorong yield AS dan dolar kembali menguat sehingga tekanan terhadap rupiah bisa bertahan," jelasnya.

    Ia mencatat, secara kumulatif sepanjang September, aliran modal asing masih mencatatkan net inflow, terutama ke pasar obligasi. Namun, pergerakan aliran modal belakangan mulai lebih volatile.

    "Jadi risikonya lebih kepada arus modal yang menjadi lebih selektif dan sensitif terhadap perubahan yield global," kata Irman.

  2. 2. BI diprediksi masih tahan suku bunga acuan di RDG pekan depan

    Screenshot_20260819_142621_YouTube.jpg
    Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memimpin perdama Rapat Perdana Dewan Gubernur (RDG) BI. (Dok/Istimewa)

    Di tengah kondisi tersebut, Irman memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September di level 5,75 persen. Lantaran, BI dinilainya masih memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebelum menggunakan kebijakan suku bunga.

    "BI masih dapat menggunakan intervensi NDF, spot dan DNDF serta instrumen moneter lainnya sebagai first line of defense," ujarnya.

    Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih cukup memadai untuk menopang stabilitas eksternal. BI mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar, dolar AS atau naik dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026.

    Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meski demikian, ruang BI untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini dinilai semakin terbatas apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

    "Ruang untuk (menahan) suku bunga acuan semakin sempit.Kalau tekanan rupiah di kisaran Rp17.700–17.800 berkembang menjadi lebih persisten, disertai capital outflow dan penguatan dolar, BI dapat menggunakan kenaikan suku bunga secara pre-emptive. Kami masih melihat BI Rate berpotensi mencapai 6,25 persen pada akhir tahun," tuturnya.

  3. 3. Rincian posisi suku bunga acuan BI periode Januari-Agustus 2026

    ilustrasi suku bunga
    ilustrasi suku bunga (IDN Times/Aditya Pratama)

    Daftar Suku Bunga Acuan BI Periode Januari-Agustus 2026

    • Januari: 4,75 persen
    • Februari: 4,75 persen
    • Maret: 4,75 persen
    • April: 4,75 persen
    • Mei: 5,25 persen
    • Juni: 5,50 persen
    • Juli: 5,75 persen
    • Agustus: 5,75 persen

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More