Ketegangan Geopolitik dan Sinyal Bunga AS Tekan Rupiah ke Rp17.913

Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.913 per dolar AS setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Senin.
Ketidakpastian geopolitik global dan sinyal pengetatan kebijakan The Fed menjadi perhatian pasar.
Rupiah diperkirakan masih berfluktuasi dan berpotensi melemah pada perdagangan Selasa.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda parkir di level Rp17.913 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang ditutup di posisi Rp17.899 per dolar AS.
Rupiah sempat dibuka menguat di level Rp17.895 per dolar AS dan naik 7 poin sepanjang perdagangan. Namun, rupiah kemudian berbalik melemah dengan pergerakan sepanjang hari berada di kisaran Rp17.879-Rp17.929 per dolar AS.
1. Ketegangan geopolitik global jadi perhatian pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan tersebut disebut berkaitan dengan pasokan diesel AS ke Rusia.
Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut. Sementara itu, Rusia belum memberikan komentar.
Ketegangan juga terjadi di Timur Tengah. Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya serangan baru pada Minggu.
"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi dalam konflik ini- sebuah dampak lanjutan dari perang yang lebih luas dengan Iran yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari," kata Ibrahim.
Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di dekat wilayah labuh jangkar Sohar, Oman. Kapal lainnya juga dilaporkan rusak akibat proyektil saat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.
2. Pasar menunggu arah suku bunga AS
Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga mencermati sinyal dari bank sentral AS atau The Fed. Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan kebijakan moneter masih perlu diperketat untuk menekan inflasi hingga kembali ke target.
Gubernur The Fed Christopher Waller juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang sesuai dengan perkiraan.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga AS yang lebih tinggi dapat membuat dolar AS lebih menarik bagi investor. Kondisi itu berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.
"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," ujar Ibrahim.
3. Rupiah diperkirakan masih melemah pada Selasa
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan, pasar masih menunggu keputusan penyedia indeks global MSCI terkait status pasar saham Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi frontier market, yaitu kelompok pasar yang tingkat perkembangan dan likuiditasnya masih di bawah pasar berkembang.
MSCI juga mengancam kemungkinan pembekuan terhadap sejumlah perubahan pada pasar saham Indonesia. Jika solusi atas persoalan tersebut dapat diterapkan dengan cepat, perlakuan khusus itu diperkirakan bisa diselesaikan dalam sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, pembekuan dapat berlangsung lebih lama dan bahkan berujung pada penurunan status pasar Indonesia.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (13/10/2026) masih akan berfluktuasi. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.























