BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dari Gejolak Pasar Offshore

- Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui transaksi spot, DNDF, dan NDF, dengan pemilihan instrumen disesuaikan dengan urgensi kebutuhan dolar AS di pasar.
- Pelaku pasar dapat memakai instrumen forward untuk lindung nilai dan mengunci kurs bagi kebutuhan dolar mendatang, sehingga tidak seluruh permintaan harus dipenuhi lewat pembelian spot.
- BI memantau serta beroperasi di pasar NDF offshore untuk membatasi rambatan gejolak global ke pasar domestik, tanpa mengurangi komitmen intervensi spot.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menegaskan tak hanya mengandalkan transaksi jual-beli dolar AS di pasar spot untuk menjaga stabilitas rupiah. Tapi, BI menggunakan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, ketiga instrumen tersebut digunakan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jika kebutuhan dolar AS harus dipenuhi segera, BI akan menggunakan instrumen spot. Artinya, transaksi dolar AS dilakukan saat itu juga.
Sementara itu, jika kebutuhan dolar AS baru diperlukan beberapa waktu ke depan, pelaku pasar dapat menggunakan instrumen forward seperti DNDF. Dengan instrumen ini, pelaku pasar bisa mengunci nilai tukar dari sekarang untuk kebutuhan di masa mendatang.
"Kalau ada kebutuhan yang sifatnya sangat segera, tidak bisa ditunda, kita respons dengan instrumen spot. Tetapi kalau kebutuhannya bisa ditunda, kita respons dengan instrumen NDF," ujar Erwin dalam Taklimat Media, Rabu (30/9/2026).
1. Perusahaan bisa lakukan lindung nilai

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat) Ia mencontohkan, perusahaan memiliki kewajiban membayar utang luar negeri tiga bulan lagi. Perusahaan tidak harus membeli dolar AS hari ini.
Perusahaan bisa melakukan hedging atau lindung nilai melalui instrumen forward. Dengan begitu, perusahaan bisa mengunci nilai tukar sejak sekarang dan mengurangi risiko jika rupiah melemah saat pembayaran dilakukan.
"Misalnya mau keluar negeri sebulan yang akan datang, kan bisa booking dulu yang penting kan kita pastikan bahwa tiketnya dapat, harga udah terkunci gak harus dibeli hari ini," tegasnya.2. BI pantau pergerakan NDF di offshore market

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk) Tak hanya itu, Erwin mengatakan, BI juga memperhatikan pergerakan NDF karena transaksi ini berlangsung di pasar luar negeri atau offshore market.
Sederhananya, NDF merupakan transaksi lindung nilai terhadap rupiah yang dilakukan di luar negeri. Transaksi ini tidak melibatkan pertukaran rupiah dan dolar AS secara langsung.
Saat jatuh tempo, yang diselesaikan hanya selisih nilai transaksi dalam dolar AS.
Meski berlangsung di luar negeri, pergerakan NDF tetap dapat memengaruhi pasar rupiah di dalam negeri. Sebab, pasar NDF tetap aktif ketika pasar domestik Indonesia sudah tutup.
"Transaksi yang terjadi di pasar NDF ini, bagaimanapun suka atau tidak suka, ada rambatan ke domestik kita," kata Erwin.
3. Gejolak di pasar NDF pernah terjadi saat liberation day

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea. (IDN Times/Triyan). Erwin mengatakan, gejolak di pasar NDF pernah terjadi saat Liberation Day pada April 2025, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif perdagangan.
Pengumuman tersebut memicu gejolak di berbagai pasar mata uang, termasuk NDF dolar AS terhadap rupiah. Namun, BI tidak dapat merespons pergerakan tersebut secara langsung di pasar domestik karena saat itu pasar keuangan Indonesia sedang libur.
Ia mencontohkan, pasar domestik Indonesia tutup pada sore hari dengan nilai tukar, misalnya, Rp17.900 per dolar AS. Setelah pasar Indonesia tutup, pasar Eropa dan Amerika masih beroperasi.
Jika kemudian muncul sentimen global yang membuat nilai tukar rupiah di pasar NDF bergerak tajam hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, BI tidak dapat langsung melakukan intervensi di pasar domestik karena pasar sudah tutup.
Karena itu, BI juga melakukan operasi di pasar NDF untuk mengantisipasi agar gejolak di pasar offshore tidak merambat terlalu besar ke pasar rupiah domestik saat perdagangan kembali dibuka.
"Kalau tidak kita respons, besok jam 9 kita buka, pelaku domestik akan melihat NDF dolar AS terhadap rupiah itu closing Amerikanya berapa. Sehingga kami pun melakukan operasi di pasar NDF," jelasnya.
4. Bukan berarti BI tinggalkan intervensi spot

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp) Erwin menegaskan, penggunaan DNDF dan NDF yang semakin besar bukan berarti BI mengurangi intervensi di pasar spot. Justru, BI ingin kebutuhan dolar AS tidak seluruhnya dipenuhi melalui transaksi spot atau pembelian dolar secara langsung.
Untuk kebutuhan yang belum mendesak, BI mendorong pelaku pasar menggunakan instrumen hedging.
"Bank Indonesia terus mendorong agar transaksi valas di domestic market itu tidak semuanya cash, tidak semuanya Today, Tomorrow, Spot," ujarnya.
Dengan cara tersebut, kebutuhan dolar AS yang baru diperlukan beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan bisa diamankan terlebih dahulu melalui instrumen forward.
Erwin mengatakan, secara historis penggunaan ketiga instrumen tersebut mulai lebih seimbang.
Namun, ia menegaskan, hal itu tidak berarti BI mengurangi komitmen untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















