Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketegangan Geopolitik dan Sinyal Bunga AS Tekan Rupiah ke Rp17.913
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.913 per dolar AS setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Senin.

  • Ketidakpastian geopolitik global dan sinyal pengetatan kebijakan The Fed menjadi perhatian pasar.

  • Rupiah diperkirakan masih berfluktuasi dan berpotensi melemah pada perdagangan Selasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi. Serangan tersebut menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Minggu

Otoritas Arab Saudi melaporkan adanya serangan baru.

akhir pekan lalu

Sebuah kapal dilaporkan rusak akibat proyektil saat melintasi Selat Hormuz.

Senin (12/10/2026)

Rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen dan ditutup di level Rp17.913 per dolar AS. Pergerakannya berada di kisaran Rp17.879-Rp17.929 per dolar AS.

Minggu ini

Pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, data penjualan ritel, serta pernyataan beberapa pejabat The Fed.

Selasa (13/10/2026)

Rupiah diperkirakan masih berfluktuasi di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • Apa?
    Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dan ditutup di level Rp17.913.
  • Siapa?
    Rupiah, dolar AS, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, The Fed, dan penyedia indeks global MSCI menjadi perhatian pasar.
  • Di mana?
    Pergerakan rupiah berlangsung di pasar valuta asing, sementara faktor geopolitik terkait sejumlah wilayah, termasuk Timur Tengah dan Selat Hormuz.
  • Kapan?
    Pelemahan terjadi pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026), dengan proyeksi pergerakan berikutnya pada Selasa (13/10/2026).
  • Mengapa?
    Pergerakan rupiah dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global, sinyal suku bunga AS, dan penantian keputusan MSCI terkait pasar saham Indonesia.
  • Bagaimana?
    Rupiah dibuka di Rp17.895, sempat menguat, lalu berbalik melemah dalam kisaran Rp17.879-Rp17.929 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah turun saat ditukar dengan dolar AS dan ditutup di Rp17.913. Rupiah sempat naik, lalu turun lagi. Pasar melihat perang dan ketegangan di beberapa tempat, serta menunggu keputusan The Fed tentang bunga. Ibrahim memperkirakan rupiah masih naik turun pada Selasa dan bisa melemah lagi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan rupiah dipantau melalui berbagai indikator, mulai dari kondisi geopolitik, kebijakan The Fed, data ekonomi AS, hingga keputusan MSCI. Informasi dari sejumlah sumber tersebut memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar dan membantu menjelaskan mengapa rupiah bergerak fluktuatif selama perdagangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda parkir di level Rp17.913 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang ditutup di posisi Rp17.899 per dolar AS.

Rupiah sempat dibuka menguat di level Rp17.895 per dolar AS dan naik 7 poin sepanjang perdagangan. Namun, rupiah kemudian berbalik melemah dengan pergerakan sepanjang hari berada di kisaran Rp17.879-Rp17.929 per dolar AS.

1. Ketegangan geopolitik global jadi perhatian pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan tersebut disebut berkaitan dengan pasokan diesel AS ke Rusia.

Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut. Sementara itu, Rusia belum memberikan komentar.

Ketegangan juga terjadi di Timur Tengah. Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya serangan baru pada Minggu.

"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi dalam konflik ini- sebuah dampak lanjutan dari perang yang lebih luas dengan Iran yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari," kata Ibrahim.

Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah.

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di dekat wilayah labuh jangkar Sohar, Oman. Kapal lainnya juga dilaporkan rusak akibat proyektil saat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.

2. Pasar menunggu arah suku bunga AS

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga mencermati sinyal dari bank sentral AS atau The Fed. Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan kebijakan moneter masih perlu diperketat untuk menekan inflasi hingga kembali ke target.

Gubernur The Fed Christopher Waller juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang sesuai dengan perkiraan.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga AS yang lebih tinggi dapat membuat dolar AS lebih menarik bagi investor. Kondisi itu berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," ujar Ibrahim.

3. Rupiah diperkirakan masih melemah pada Selasa

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan, pasar masih menunggu keputusan penyedia indeks global MSCI terkait status pasar saham Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi frontier market, yaitu kelompok pasar yang tingkat perkembangan dan likuiditasnya masih di bawah pasar berkembang.

MSCI juga mengancam kemungkinan pembekuan terhadap sejumlah perubahan pada pasar saham Indonesia. Jika solusi atas persoalan tersebut dapat diterapkan dengan cepat, perlakuan khusus itu diperkirakan bisa diselesaikan dalam sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, pembekuan dapat berlangsung lebih lama dan bahkan berujung pada penurunan status pasar Indonesia.

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (13/10/2026) masih akan berfluktuasi. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article