Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Kota Ternyaman Dunia 2026, Layakkah Jadi Tujuan Ekspansi?
ilustrasi salah satu kota ternyaman (pexels.com/Pham Ngoc Anh)
  • Global Liveability Index 2026 EIU menilai 173 kota melalui 30 indikator; Copenhagen memimpin dengan skor 98,0, diikuti Vienna, Melbourne, Sydney, Zurich, Geneva, Osaka, Adelaide, Vancouver, dan Tokyo.
  • Australia menempatkan tiga kota dalam 10 besar, sementara Swiss dan Jepang masing-masing dua kota. Stabilitas, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur menjadi pola utama kota-kota berperingkat tinggi.
  • Indeks liveability dapat mendukung daya tarik talenta dan mobilitas pekerja, tetapi bukan ukuran iklim usaha. Keputusan ekspansi tetap memerlukan analisis pasar, biaya, pajak, regulasi, kompetisi, dan risiko investasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika perusahaan memilih kota untuk membuka kantor, memindahkan talenta, atau mengembangkan bisnis, yang dipertimbangkan bukan cuma ukuran pasar. Stabilitas, kualitas infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan, hingga kualitas lingkungan perkotaan ikut menentukan seberapa nyaman sebuah kota menjadi tempat bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi. Karena itu, Global Liveability Index 2026 dari Economist Intelligence Unit (EIU) menarik dilihat dari perspektif bisnis, meski indeks ini sendiri bukan pemeringkat iklim usaha.

Dalam laporan yang mengukur 173 kota melalui 30 indikator, Copenhagen kembali berada di posisi pertama dengan skor 98,0. Di belakangnya ada Vienna, Melbourne, Sydney, Zurich, Geneva, Osaka, Adelaide, Vancouver, dan Tokyo. Komposisinya menarik; Australia mengirim tiga kota ke 10 besar, sedangkan Swiss dan Jepang masing-masing memiliki dua wakil.

Lantas, apa yang membuat kota-kota tersebut menarik jika dilihat dari sisi ekosistem bisnis dan tenaga kerja? Mari kita telusuri!

1. Copenhagen, Denmark

ilustrasi Copenhagen yang jadi kota ternyaman (pexels.com/rao qingwei)

Copenhagen kembali menjadi kota dengan skor liveability tertinggi pada 2026, sekaligus mempertahankan posisi pertama selama dua tahun berturut-turut. EIU mencatat kota ini memperoleh nilai sempurna 100 untuk stabilitas, pendidikan, dan infrastruktur.

Dari sudut pandang bisnis, tiga komponen tersebut merupakan fondasi penting. Karena perusahaan membutuhkan lingkungan yang stabil, akses terhadap talenta berpendidikan, serta infrastruktur yang mampu menunjang aktivitas sehari-hari.

Infrastruktur yang kuat juga berarti perusahaan tidak hanya memiliki akses terhadap fasilitas fisik, tetapi pekerja dapat bergerak dan menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Sementara itu, kualitas pendidikan berhubungan dengan ketersediaan sumber daya manusia. Kombinasi tersebut membuat Copenhagen menarik untuk dilihat sebagai contoh bagaimana kualitas kota dapat mendukung produktivitas dan mobilitas tenaga kerja, meskipun EIU tidak secara langsung mengukur produktivitas perusahaan melalui indeks ini.

Bagi perusahaan multinasional, kualitas hidup juga dapat menjadi bagian dari strategi perekrutan dan retensi talenta. Kota yang menyediakan lingkungan hidup nyaman berpotensi lebih menarik bagi pekerja yang harus berpindah negara. Namun, keputusan ekspansi tetap membutuhkan indikator lain seperti biaya tenaga kerja, pajak, regulasi, ukuran pasar, dan iklim investasi yang tidak tercakup sepenuhnya dalam Global Liveability Index.

2. Vienna, Austria

ilustrasi Vienna yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Dan V)

Vienna berada di posisi kedua dengan skor 97,1. Ibu kota Austria tersebut memiliki performa sangat tinggi dalam sejumlah kategori yang dinilai EIU, terutama layanan kesehatan dan pendidikan. Bagi dunia usaha, dua komponen ini relevan, karena kualitas fasilitas kesehatan dan pendidikan merupakan bagian dari ekosistem yang memengaruhi kesejahteraan serta ketersediaan tenaga kerja.

Kota dengan layanan publik yang kuat juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi pekerja profesional. Bagi perusahaan yang merekrut talenta internasional, kualitas kehidupan di tempat karyawan tinggal bisa menjadi pertimbangan dalam paket relokasi. Karena itu, liveability dapat memiliki hubungan tidak langsung dengan kemampuan perusahaan mempertahankan tenaga kerja, meski hubungan tersebut tidak berarti skor liveability otomatis menunjukkan tingkat keuntungan sebuah perusahaan.

Vienna juga menunjukkan bahwa daya tarik ekonomi sebuah kota tidak harus dibangun hanya melalui gedung pencakar langit atau pusat finansial. Infrastruktur sosial, pendidikan, kesehatan, dan stabilitas kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian dari daya saing perkotaan. Bagi pemerintah kota, hal ini menunjukkan pentingnya investasi pada kualitas hidup sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi jangka panjang.

3. Melbourne, Australia

ilustrasi Melbourne yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Dmitry Osipenko)

Melbourne menempati posisi ketiga dengan skor 97,0. Kota ini menjadi salah satu dari tiga kota Australia yang masuk 10 besar Global Liveability Index 2026. Posisi tersebut menunjukkan konsistensi performa kota Australia dalam berbagai aspek yang dinilai EIU, sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas kehidupan perkotaan dapat menjadi salah satu aset dalam membangun lingkungan yang menarik bagi tenaga kerja.

Dari perspektif bisnis, Melbourne menarik untuk dibaca melalui hubungan antara kota, talenta, dan aktivitas ekonomi. Perusahaan modern semakin membutuhkan pekerja dengan keahlian khusus, sehingga akses terhadap pendidikan, layanan publik, transportasi, dan fasilitas perkotaan dapat menjadi bagian dari pertimbangan ketika perusahaan menentukan lokasi operasional.

Bagi perusahaan yang mengandalkan pekerja profesional, kota dengan kualitas hidup tinggi juga dapat membantu membentuk proposisi tempat kerja yang lebih menarik. Namun, liveability bukan pengganti analisis pasar. Perusahaan tetap perlu melihat biaya properti, upah, perpajakan, regulasi, ukuran pasar, serta sektor industri yang berkembang sebelum menjadikan Melbourne sebagai basis ekspansi.

4. Sydney, Australia

ilustrasi Sydney yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Leigh)

Sydney berada di peringkat keempat dengan skor 96,6. Kota ini memperkuat posisi Australia sebagai negara dengan jumlah wakil terbanyak di 10 besar. EIU menempatkan Sydney bersama Melbourne dan Adelaide dalam jajaran kota dengan skor liveability tertinggi pada 2026.

Bagi bisnis, Sydney memiliki kombinasi kota metropolitan dan lingkungan hidup yang relatif kuat. Infrastruktur perkotaan menjadi salah satu aspek penting dalam indeks EIU karena perusahaan membutuhkan konektivitas untuk pekerja, konsumen, dan berbagai aktivitas ekonomi. Kota dengan infrastruktur yang berfungsi baik dapat mengurangi sebagian hambatan mobilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Sydney juga menunjukkan mengapa kualitas hidup dapat menjadi aset dalam persaingan mendapatkan talenta. Bagi perusahaan yang membutuhkan tenaga profesional dari berbagai negara, kota bukan hanya tempat kantor berdiri, tetapi juga tempat pekerja menjalani kehidupannya. Meski begitu, faktor biaya hidup dan biaya menjalankan usaha tetap harus dianalisis secara terpisah, karena tidak menjadi ukuran utama Global Liveability Index.

5. Zurich, Swiss

ilustrasi Zurich yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Aho)

Zurich berada di peringkat kelima dengan skor 96,4. Kota Swiss ini menjadi salah satu dari dua wakil Swiss dalam 10 besar, bersama Geneva. Posisi tersebut menunjukkan kuatnya performa kota-kota Swiss dalam berbagai aspek kualitas kehidupan yang dinilai EIU.

Dari perspektif bisnis, Zurich menarik karena liveability-nya dapat dibaca bersama peran kota sebagai pusat aktivitas ekonomi dan jasa. Infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, dan stabilitas merupakan elemen yang membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang mendukung kehidupan pekerja dan aktivitas perusahaan. Bagi sektor yang mengandalkan tenaga profesional, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu faktor pendukung daya tarik lokasi.

Namun, perusahaan tidak bisa menjadikan skor 96,4 sebagai bukti bahwa Zurich otomatis merupakan lokasi usaha yang paling menguntungkan. Liveability hanya menjelaskan kualitas kondisi kehidupan. Analisis ekspansi tetap membutuhkan data mengenai biaya operasi, akses pasar, perpajakan, regulasi, kompetisi, dan karakter industri lokal.

6. Jenewa, Swiss

ilustrasi Jenewa yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Xavier von Erlach)

Jenewa menempati posisi keenam dengan skor 96,1. Bersama Zurich, kota ini menjadikan Swiss salah satu negara dengan dua wakil di jajaran teratas. Posisi Geneva juga memperlihatkan bagaimana kualitas layanan perkotaan dan stabilitas dapat berkontribusi terhadap lingkungan yang menarik bagi pekerja serta organisasi internasional.

Dari sisi bisnis, keberadaan organisasi internasional dan aktivitas ekonomi lintas negara membuat Geneva menarik untuk dilihat sebagai ekosistem yang membutuhkan tenaga kerja dengan mobilitas dan kompetensi global. Kota seperti ini menunjukkan bahwa kualitas hidup dapat menjadi bagian dari daya tarik sebuah lokasi bagi profesional yang bekerja dalam lingkungan internasional.

Bagi perusahaan, pelajaran yang lebih luas bukan sekadar memilih Geneva sebagai lokasi ekspansi. Yang menarik adalah bagaimana kota dengan kualitas hidup tinggi dapat membangun ekosistem yang mendukung pekerja dengan kebutuhan profesional dan internasional. Karena itu, perusahaan yang mempertimbangkan kota seperti Geneva tetap perlu menggabungkan data liveability dengan analisis sektor dan biaya usaha.

7. Osaka, Jepang

ilustrasi Osaka yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Richard Tao)

Osaka menempati posisi ketujuh dengan skor 96,0 dan menjadi salah satu dari dua kota Jepang di 10 besar. EIU mencatat Osaka memperoleh nilai sempurna untuk stabilitas, layanan kesehatan, dan pendidikan. Sementara itu, infrastrukturnya juga mendapatkan skor sangat tinggi. Kombinasi ini menjadikan Osaka menarik jika dilihat dari hubungan antara kualitas kota dan kebutuhan tenaga kerja perkotaan.

Osaka juga memberikan contoh bahwa kota besar di Asia dapat masuk jajaran teratas meski memiliki kepadatan dan aktivitas ekonomi yang tinggi. Infrastruktur yang kuat sangat relevan bagi bisnis karena konektivitas memengaruhi mobilitas pekerja, distribusi aktivitas ekonomi, dan akses masyarakat terhadap berbagai layanan.

Bagi perusahaan yang melihat kawasan Asia sebagai pasar strategis, Osaka juga menarik karena berada dalam ekosistem ekonomi Jepang. Namun, sekali lagi, skor liveability tidak sama dengan skor kemudahan berbisnis. Perusahaan tetap perlu mempertimbangkan struktur pasar Jepang, regulasi, biaya tenaga kerja, kompetisi, serta kebutuhan sektor tertentu sebelum mengambil keputusan investasi.

8. Adelaide, Australia

ilustrasi Adelaide yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/James R)

Adelaide berada di peringkat kedelapan dengan skor 95,9. Kota ini melengkapi dominasi Australia di 10 besar bersama Melbourne dan Sydney. Dengan tiga kota sekaligus, Australia menjadi negara dengan jumlah kota terbanyak dalam jajaran teratas Global Liveability Index 2026.

Dari perspektif bisnis, Adelaide menarik karena menunjukkan bahwa kota yang tidak sebesar Sydney atau Melbourne tetap dapat memiliki kualitas lingkungan perkotaan yang sangat tinggi. Bagi perusahaan, kondisi seperti ini dapat membuka pertanyaan lain, apakah lokasi dengan skala kota lebih kecil bisa memberikan lingkungan yang mendukung pekerja sekaligus menjadi basis operasi tertentu?

Jawabannya tentu bergantung pada jenis bisnis. Perusahaan yang membutuhkan pasar konsumen sangat besar mungkin memiliki pertimbangan berbeda dengan perusahaan yang mengandalkan tenaga ahli, riset, teknologi, pendidikan, atau industri tertentu. Karena itu, posisi Adelaide dalam indeks lebih tepat dibaca sebagai indikator kualitas lingkungan hidup, bukan sebagai rekomendasi investasi otomatis.

9. Vancouver, Kanada

ilustrasi Vancouver yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Kyle Ryan)

Vancouver menempati peringkat kesembilan dengan skor 95,8 dan menjadi satu-satunya kota Amerika Utara dalam 10 besar. EIU mencatat Vancouver sebagai salah satu kota yang secara konsisten berada di kelompok atas indeks, meski pada 2026 posisinya berada di urutan kesembilan.

Dari sisi bisnis, Vancouver menarik karena menggabungkan karakter kota metropolitan dengan kualitas lingkungan perkotaan yang tinggi. Kota seperti ini dapat menjadi magnet bagi tenaga profesional yang menginginkan akses terhadap peluang ekonomi tanpa sepenuhnya meninggalkan kualitas hidup. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, kemampuan sebuah kota menarik dan mempertahankan talenta dapat menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan perusahaan.

Namun, perusahaan perlu berhati-hati membaca indeks ini. Vancouver memiliki skor liveability tinggi, tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti biaya menjalankan bisnis rendah atau semua sektor memiliki prospek yang sama. Untuk keputusan ekspansi, data tentang pasar, biaya properti, tenaga kerja, pajak, regulasi, dan kompetisi tetap diperlukan.

10. Tokyo, Jepang

ilustrasi Tokyo yang jadi kota ternyaman (unsplash.com/Jezael Melgoza)

Tokyo menutup 10 besar dengan skor 95,7 dan menjadi satu-satunya megakota yang masuk jajaran tersebut pada 2026. EIU mencatat Tokyo naik tiga posisi dan mengalami peningkatan pada kategori budaya dan lingkungan. Kota ini juga mendapatkan skor sempurna untuk stabilitas, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Bagi dunia bisnis, Tokyo menjadi kasus yang menarik karena skala kota yang sangat besar tidak otomatis membuatnya tersingkir dari kelompok teratas. Infrastruktur perkotaan, layanan kesehatan, pendidikan, dan stabilitas menjadi bagian dari fondasi yang memungkinkan aktivitas ekonomi berlangsung dalam lingkungan metropolitan dengan populasi besar.

Kehadiran Tokyo juga mengingatkan bahwa ukuran pasar dan kualitas hidup merupakan dua variabel yang berbeda. Sebuah kota dapat memiliki pasar besar sekaligus menghadapi tantangan khas megakota. Karena itu, bagi perusahaan yang melihat Tokyo sebagai pusat bisnis, skor liveability bisa menjadi salah satu informasi pendukung, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan ekspansi.

Sepuluh kota teratas Global Liveability Index 2026 memperlihatkan pola yang menarik bagi dunia bisnis. Kota-kota tersebut memiliki performa tinggi dalam berbagai aspek yang mendukung kehidupan perkotaan—mulai dari stabilitas dan kesehatan hingga pendidikan serta infrastruktur. EIU sendiri menegaskan bahwa indeks ini dirancang untuk menilai kondisi kehidupan di 173 kota, bukan untuk mengukur secara langsung keuntungan, biaya usaha, atau daya tarik investasi.

Namun, justru di situlah daftar ini menjadi menarik bagi pelaku bisnis. Kota yang nyaman dapat menjadi bagian dari ekosistem yang membantu perusahaan menarik talenta, menjaga mobilitas pekerja, dan menciptakan lingkungan operasional yang lebih mendukung.

Pada saat yang sama, perusahaan tetap perlu menggabungkan informasi tersebut dengan indikator lain seperti ukuran pasar, biaya operasi, perpajakan, regulasi, kualitas tenaga kerja, dan risiko investasi. Jadi, kalau pertanyaannya adalah apakah 10 kota ini layak menjadi tujuan ekspansi, jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari ranking EIU—tetapi daftar ini bisa menjadi titik awal untuk melihat bagaimana kualitas sebuah kota berhubungan dengan kehidupan dan aktivitas bisnis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article