ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
Penambahan likuiditas tersebut juga ditujukan untuk menjaga agar suku bunga di pasar uang bergerak di sekitar tingkat kebijakan BI. Saat ini, BI-Rate berada di level 5,75 persen, sementara IndONIA pada perdagangan terakhir tercatat sekitar 5,71 persen.
Erwin mengatakan pergerakan IndONIA masih terkendali dan tidak jauh dari BI-Rate. Namun, suku bunga pasar dapat bergerak sedikit lebih tinggi ketika terdapat kebutuhan likuiditas tertentu.
Kondisi tersebut, misalnya, dapat terjadi ketika ada penyelesaian penerbitan SBN atau kebutuhan penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL).
"Kadang-kadang kalau ada kebutuhan likuiditas, apakah itu terkait dengan settlement penerbitan SBN pada hari Kamis atau ada kebutuhan penarikan dana SAL yang memang dalam pipeline, sedikit bergerak di atas. Tetapi so far pergerakannya masih cukup terkendali dengan baik," kata Erwin.
Dengan demikian, pembelian SBN menjadi salah satu instrumen BI untuk menjaga ketersediaan likuiditas sekaligus mendukung stabilitas suku bunga pasar agar tetap berada di sekitar BI-Rate.
Selain membeli SBN, BI juga melakukan kalibrasi terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Imbal hasil SRBI yang sebelumnya sempat mencapai sekitar 7,74 persen telah diturunkan secara bertahap menjadi sekitar 6,76 persen pada lelang terakhir. Langkah tersebut merupakan bagian dari rangkaian kebijakan BI dalam mengelola likuiditas dan menjaga stabilitas pasar keuangan.