Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lindungi Industri Lokal, Thailand Berencana Naikkan Pajak Impor EV

4 min read
Lindungi Industri Lokal, Thailand Berencana Naikkan Pajak Impor EV
ilustrasi bendera negara Thailand (pexels.com/Markus Winkler)
  • Thailand mempertimbangkan kenaikan pajak cukai EV impor untuk melindungi manufaktur domestik yang tertekan dominasi impor dan biaya produksi lokal lebih tinggi.
  • BEV menyumbang 30,88 persen penjualan mobil Thailand pada Januari-Juli 2026, dengan kendaraan impor mencakup 63 persen penjualan BEV.
  • Skema baru membagi kendaraan dalam tiga kategori: impor utuh bertarif tertinggi, impor produsen lokal bertarif lebih rendah, serta kendaraan hemat energi rakitan lokal dengan insentif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Thailand sedang mempertimbangkan struktur pajak baru yang akan menaikkan pajak cukai pada kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) impor demi mendukung industri manufaktur mobil domestik. Langkah ini disiapkan karena industri manufaktur mobil dalam negeri Thailand tengah menghadapi tekanan akibat tingginya volume kendaraan listrik impor serta biaya produksi domestik yang melebihi biaya kendaraan impor.

Kabinet Thailand telah menerima proposal pemungutan pajak cukai yang lebih tinggi untuk kendaraan impor tertentu. Itu dilakukan dengan memberikan perlakuan khusus bagi produksi EV lokal, komponen dalam negeri, dan investasi.

Berdasarkan laporan Government House sebagaimana dilaporkan The Nation Thailand, usulan perubahan pajak tersebut merupakan tindak lanjut dari resolusi Komite Kebijakan Kendaraan Listrik Nasional atau EV Board pada Kamis (10/9/2026). Melalui rencana ini, kendaraan impor utuh akan dikenakan tarif cukai tertinggi, sedangkan mobil rakitan lokal mendapatkan tarif lebih rendah yang disesuaikan dengan investasi serta penggunaan komponen lokal. Departemen Cukai Thailand kini telah ditugaskan untuk meninjau rancangan struktur pajak tersebut sebelum menyerahkan rincian tindakan untuk persetujuan kabinet.

  1. 1. Penjualan kendaraan listrik impor mendominasi pasar domestik

    ilustrasi pengiriman mobil
    ilustrasi pengiriman mobil (pexels.com/Julien Goettelmann)

    Thailand sebelumnya telah meluncurkan program insentif, termasuk skema EV3 dan EV3.5, untuk mempromosikan manufaktur kendaraan listrik beserta komponennya. Pemerintah Thailand juga memberikan pengurangan tarif pajak cukai bagi kendaraan hybrid electric vehicles (HEV) dan mild-hybrid electric vehicles (MHEV) rakitan dalam negeri dengan kapasitas tidak lebih dari 10 kursi. Usulan perombakan pajak ini sendiri dirancang guna mendorong produsen mendirikan atau memperluas fasilitas produksi di Thailand, memperkuat rantai pasok otomotif dalam negeri, sekaligus mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.

    Akan tetapi, pasar domestik Thailand mencatat lonjakan penjualan kendaraan listrik yang kemudian memicu kekhawatiran atas ketergantungan pada produk impor. Berdasarkan data Federasi Industri Thailand (FTI), mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicles (BEV) berkontribusi sebesar 30,88 persen dari total penjualan mobil domestik antara Januari dan Juli 2026. Kendaraan impor bahkan mencakup 63 persen dari total penjualan BEV tersebut, meski periode impor di bawah program EV3 dan EV3.5 telah selesai.

    Saat ini manufaktur kendaraan listrik domestik di Thailand masih berada pada tahap awal pengembangan. Kondisi ini membuat biaya produksi di dalam negeri masih melebihi biaya produksi kendaraan impor. Situasi tersebut menempatkan produsen lokal pada posisi yang dirugikan dari segi biaya.

  2. 2. Tiga prinsip perombakan pajak kendaraan listrik di Thailand

    ilustrasi pengisian daya kendaraan listrik
    ilustrasi pengisian daya kendaraan listrik (pexels.com/Giant Asparagus)

    Restrukturisasi pajak yang diajukan bersandar pada tiga prinsip utama untuk mendukung industri lokal. Prinsip pertama adalah impor berbasis investasi, yakni mengizinkan impor model kendaraan canggih tertentu untuk keperluan penelitian, evaluasi, dan pengujian. Langkah ini ditujukan untuk mempelajari teknologi dan membangun kemampuan produksi di dalam negeri.

    Prinsip kedua berfokus pada pengembangan pusat ekspor otomotif regional dan global dengan memperluas kapasitas produksi. Melalui prinsip ini, Thailand diarahkan menjadi pusat manufaktur dan ekspor kendaraan listrik serta kendaraan ramah lingkungan untuk pasar kawasan maupun dunia.

    Prinsip ketiga mengedepankan konten lokal bernilai tinggi dengan membangun kemampuan memproduksi komponen yang lebih canggih dari bahan baku setempat. Upaya peningkatan penggunaan material lokal bernilai tinggi ini sekaligus ditujukan untuk mendorong penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan keterampilan pekerja pada teknologi otomotif modern.

  3. 3. Pembagian tiga kategori dalam skema pajak cukai baru

    ilustrasi pengiriman mobil
    ilustrasi pengiriman mobil (pexels.com/abdo alshreef)

    Dalam kerangka yang diusulkan sebagaimana dilaporkan The Nation Thailand, struktur pajak cukai akan dibagi ke dalam tiga kategori kendaraan. Kategori pertama berlaku untuk kendaraan impor utuh dari luar negeri yang saat ini belum dapat diproduksi di Thailand. Kendaraan dalam kelompok ini akan dikenakan tarif pajak cukai tertinggi yang berada di atas level tarif saat ini.

    Kategori kedua mengatur impor oleh produsen domestik, yaitu pabrikan otomotif yang sudah mengoperasikan pabrik perakitan di Thailand. Pabrikan tersebut diizinkan mengimpor model kendaraan tertentu untuk menguji permintaan pasar, dengan batas kuota impor yang didasarkan pada nilai ekonomi yang dihasilkan di Thailand pada tahun sebelumnya. Tolok ukur nilai ekonomi ini mencakup pengeluaran untuk komponen lokal serta penyediaan lapangan kerja domestik, dengan tarif cukai yang lebih rendah daripada kendaraan impor utuh.

    Kategori ketiga diperuntukkan bagi kendaraan hemat energi rakitan lokal yang memiliki tingkat kandungan lokal moderat, termasuk model premium bervolume rendah. Kelompok ini berhak atas tarif pajak cukai yang lebih rendah dibanding kedua kategori kendaraan impor. Skema ini berlaku bagi kendaraan yang pabrikannya belum dapat memakai komponen elektronik lokal esensial, namun memiliki potensi menaikkan penggunaan suku cadang dalam negeri seiring berkembangnya rantai pasok domestik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More