Thailand Batasi Ekspor Telur hingga 50 Persen karena Terdampak Banjir

- Thailand membatasi ekspor telur ayam 30–50 persen hingga Desember 2026 setelah banjir melanda sentra unggas, demi memprioritaskan pasokan domestik dan menahan harga di 4 baht per butir.
- Banjir sejak pertengahan September melanda 51 provinsi, menewaskan 31 orang dan sekitar tiga juta ayam petelur di Chachoengsao, sementara Bangkok sempat berstatus darurat.
- Pemerintah memetakan wilayah bebas genangan untuk mengalihkan pasokan ke pasar, menjaga distribusi, serta memperpanjang masa produktif ayam dari 80 menjadi 85 minggu.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Thailand resmi meminta kalangan pengusaha membatasi volume ekspor komoditas telur ayam ke luar negeri pada Selasa (6/10/2026). Kebijakan darurat ini diberlakukan menyusul bencana banjir yang melanda sejumlah sentra produksi unggas nasional.
Langkah intervensi tersebut diambil guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di pasar domestik selama masa tanggap darurat. Otoritas setempat berharap pembatasan pengiriman ke pasar luar negeri dapat menjaga stabilitas ketersediaan barang serta menekan risiko lonjakan harga.
1. Instruksi pemangkasan alokasi ekspor telur Thailand hingga 50 persen

ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser) Kementerian Perdagangan Thailand menginstruksikan para pelaku usaha untuk memotong alokasi pengiriman telur ke luar negeri sebesar 30 hingga 50 persen sampai Desember 2026. Penurunan volume ekspor ini berdampak langsung terhadap ketersediaan pasokan di negara tujuan utama, seperti Singapura dan Hong Kong.
Pada tahun lalu, Singapura menyerap hingga 79 persen dari total ekspor telur Thailand dengan nilai transaksi mencapai 1,7 miliar baht (Rp902,73 miliar).
"Kami sudah meminta asosiasi dan peternakan besar menahan harga jual telur di angka 4 baht (Rp2,1 ribu) per butir agar tidak membebani daya beli warga," ujar Wakil Direktur Jenderal Departemen Perdagangan Dalam Negeri Thailand, Jirawuth Suwanna-arj, dilansir Channel News Asia.
2. Parahnya dampak kerusakan sentra peternakan ayam di Provinsi Chachoengsao

ilustrasi peternakan ayam, peternak telur (unsplash.com/Artem Beliaikin) Dampak kerusakan paling parah dialami oleh sentra peternakan di Provinsi Chachoengsao yang terletak sekitar dua jam perjalanan di sebelah timur Bangkok. Terjangan banjir bandang sejak pertengahan September 2026 tersebut telah melanda 51 provinsi dan merenggut 31 korban jiwa.
Otoritas bahkan sempat menetapkan status darurat di ibu kota Bangkok setelah curah hujan ekstrem tercatat menembus 320 milimeter dalam tempo tiga hari.
"Banjir di wilayah Chachoengsao telah menewaskan sekitar tiga juta ekor ayam petelur," kata Jirawuth.
3. Pemetaan daerah bebas genangan untuk pengalihan pasokan telur

ilustrasi telur ayam (pexels.com/Felipe Querioz) Pemerintah kini memetakan daerah yang tidak tergenang air guna mengalihkan sumber pasokan telur ke jaringan pasar swalayan dan pasar tradisional. Para pedagang perantara juga diimbau menjaga kelancaran rantai distribusi logistik, mengingat badan meteorologi memperingatkan potensi hujan lebat susulan pada 9 hingga 13 Oktober 2026 di kawasan timur, tengah, serta selatan Thailand.
"Kami bekerja sama dengan instansi lain untuk memperpanjang masa produktif ayam dari 80 minggu menjadi 85 minggu guna mengamankan ketersediaan pasokan telur," tutur Jirawuth.























