Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lonjakan AI Dongkrak Ekonomi Taiwan pada 2025
Bendera Taiwan (unsplash.com/xandreasw)

Intinya sih...

  • Proyeksi resmi menunjukkan pertumbuhan PDB Taiwan pada 2025 mencapai 7,37 persen, level tercepat dalam 15 tahun terakhir.

  • Revisi kenaikan tersebut mencerminkan pembaruan menyeluruh pada komponen ekspor, impor, konsumsi rumah tangga, dan investasi swasta.

  • Lonjakan permintaan AI dorong ekspor dan investasi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Taiwan memproyeksikan ekonomi akan tumbuh jauh lebih cepat pada 2025 didorong lonjakan permintaan teknologi akal imitasi (AI) dari pasar global. Statistik resmi menyebut laju tersebut berpotensi menjadi yang tercepat dalam 15 tahun terakhir, menandai fase ekspansi baru bagi ekonomi yang sangat bergantung pada sektor teknologi.​

Kantor statistik juga mengingatkan, meski prospek 2025 cerah, tarif impor tinggi dari Amerika Serikat (AS) diperkirakan mulai menekan kinerja ekspor pada 2026, sehingga arah pertumbuhan tahun berikutnya masih dibayangi ketidakpastian.​

1. Proyeksi PDB 2025 tertinggi sejak 2010

Directorate General of Budget, Accounting and Statistics (DGBAS) di Taipei mengumumkan proyeksi resmi pada Jumat (28/11/2025), produk domestik bruto (PDB) Taiwan pada 2025 akan tumbuh 7,37 persen, melompat tajam dari perkiraan 4,45 persen yang dirilis pada Agustus 2025. Lembaga itu menegaskan, level ini belum pernah tercapai sejak pertumbuhan 10,25 persen pada 2010, sehingga disebut sebagai laju tercepat dalam 15 tahun.​

Lembaga yang sama menjelaskan, revisi kenaikan tersebut mencerminkan pembaruan menyeluruh pada komponen ekspor, impor, konsumsi rumah tangga, dan investasi swasta yang semuanya menunjukkan kinerja lebih kuat dari prakiraan sebelumnya. Dalam pernyataan resminya, DGBAS menilai perekonomian saat ini berada dalam fase ekspansi yang stabil, sejalan dengan membaiknya permintaan eksternal dan penguatan belanja modal di sektor teknologi.​

DGBAS juga merevisi angka pertumbuhan PDB kuartal III-2025 menjadi sekitar 8,21 persen dari estimasi awal 7,64–8,0 persen, menunjukkan percepatan yang lebih kuat menjelang akhir tahun. Revisi kuartalan yang tinggi ini disebut menjadi landasan utama bagi keberanian pemerintah menaikkan proyeksi setahun penuh ke kisaran di atas 7 persen.​

2. Lonjakan permintaan AI dorong ekspor dan investasi

Pejabat DGBAS menjelaskan, revisi tajam proyeksi PDB terutama didorong oleh meledaknya permintaan global terhadap produk terkait AI, mulai dari chip, server, hingga komponen untuk pusat data. Kepala Departemen Statistik DGBAS, Tsai Yu-tai menyebut, permintaan AI telah menjadi pendorong utama ekspor dan investasi, dengan mengatakan lonjakan kebutuhan infrastruktur komputasi global telah mengangkat ekspor dan penanaman modal Taiwan ke level yang belum terlihat sebelumnya.

DGBAS merinci, nilai ekspor barang Taiwan tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 624,9 miliar dolar AS (Rp10,4 kuadriliun), naik puluhan miliar dolar dari proyeksi sebelumnya, sementara proyeksi 2026 dinaikkan menjadi sekitar 664,4 miliar dolar AS (Rp11 kuadriliun).

Data awal PDB kuartal III-2025 yang dirilis lebih dulu menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sektor teknologi berbasis AI sudah mengimbangi tekanan dari sektor tradisional, sehingga pemerintah kala itu menyatakan siap menaikkan target pertumbuhan tahunan.

“Permintaan kuat untuk AI telah secara signifikan meningkatkan investasi modal di sektor cloud dan mendorong ekspor AI, sehingga mengurangi dampak penurunan ekspor dari sektor tradisional,”​ kata seorang analis investasi, Kevin Wang, dilansir Bloomberg.

3. Bayang-bayang tarif AS pada prospek 2026

DGBAS menyampaikan sikap hati-hati terhadap outlook 2026 karena kekhawatiran atas dampak tarif impor AS terhadap barang Taiwan. Dalam pernyataan resminya, lembaga tersebut menegaskan bahwa tarif AS tidak menjadi dampak besar untuk tahun ini, tetapi tetap menjadi ketidakpastian untuk tahun depan, menandai risiko kebijakan dagang masih membayangi.

Tarif impor 20 persen yang diberlakukan AS terhadap berbagai produk Taiwan telah menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekspor setelah 2025, meskipun semikonduktor sementara ini dikecualikan. Pemerintah Taiwan saat itu menyatakan sedang terus bernegosiasi dengan Washington untuk menurunkan bea masuk, sementara ekonom memperkirakan perlambatan ekspor dan PDB bisa mulai terasa pada 2026 bila kebijakan tarif tidak berubah.​

Laporan lain menegaskan lembaga statistik Taiwan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 akan melambat ke kisaran sekitar 2,8–3,5 persen, jauh di bawah lonjakan 7,37 persen pada 2025, dengan ekspor diperkirakan hanya tumbuh rendah karena dampak tarif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team