Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lufthansa Batalkan 20 Ribu Penerbangan Imbas Kenaikan Harga Bahan Bakar
Lufthansa (unsplash.com/Nick Herasimenka)
  • Lufthansa membatalkan 20 ribu penerbangan jarak pendek akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat yang dipicu konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak internasional.
  • Maskapai menutup anak perusahaan Lufthansa CityLine serta menghentikan operasi 27 pesawat boros bahan bakar untuk efisiensi, berdampak pada pengurangan rute regional di Eropa.
  • Badan Energi Internasional memperingatkan cadangan bahan bakar pesawat di Eropa hanya cukup enam minggu, mendorong Uni Eropa mencari pasokan alternatif dari Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Maskapai nasional Jerman, Deutsche Lufthansa AG, mengumumkan pembatalan 20 ribu jadwal penerbangan. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga pasar minyak internasional, sehingga perusahaan harus mengevaluasi kembali rute penerbangan pendek mereka pada musim panas mendatang.

Langkah efisiensi ini bertujuan menekan pengeluaran operasional perusahaan akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur). Meski ada pengurangan jadwal, pihak manajemen memastikan penerbangan jarak jauh akan tetap beroperasi normal untuk menjaga kelancaran mobilitas penumpang internasional dan arus perdagangan.

1. Konflik Timur Tengah picu kenaikan harga bahan bakar pesawat

ilustrasi maskapai penerbangan Lufthansa Group (pexels.com/Pixabay)

Konflik yang melibatkan Iran sejak akhir Februari 2026 memengaruhi pasokan energi dunia. Penutupan jalur laut di Selat Hormuz menyebabkan harga bahan bakar pesawat jet naik lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 99 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel menjadi lebih dari 200 dolar AS (Rp3,44 juta) dalam beberapa minggu.

"Kenaikan harga ini bukan masalah jangka pendek. Krisis energi akibat perang ini bisa memengaruhi harga selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun ke depan," kata Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen.

Situasi ini membuat Lufthansa menyesuaikan strategi operasionalnya untuk mengatasi kenaikan biaya bahan bakar. Saat ini, biaya bahan bakar menjadi beban operasional terbesar perusahaan, karena setiap kenaikan harga minyak mentah otomatis menambah pengeluaran tahunan maskapai hingga puluhan juta euro.

Akibat kondisi pasar tersebut, manajemen Lufthansa memutuskan untuk menghapus sekitar 20 ribu jadwal penerbangan jarak pendek mulai musim panas hingga Oktober 2026. Kebijakan ini bertujuan menghemat sekitar 40 ribu metrik ton bahan bakar jet dengan mengatur ulang frekuensi penerbangan di pusat operasi mereka di Frankfurt dan Munich.

2. Penutupan anak perusahaan Lufthansa Cityline 

ilustrasi maskapai yang ada di bandara (pixabay.com/穿着拖鞋一路小跑)

Perubahan jadwal ini mencakup penutupan anak perusahaan regional, Lufthansa CityLine, serta penghentian operasi 27 pesawat yang dinilai kurang efisien dalam konsumsi bahan bakar jika dibandingkan dengan pesawat berteknologi baru.

"Menghentikan operasi pesawat sementara tidak bisa dihindari jika biaya bahan bakar terus naik dan pasokan terbatas," kata CEO Lufthansa Group, Carsten Spohr, dilansir India Today.

Langkah ini diambil untuk menjaga kondisi keuangan grup perusahaan dari kerugian lebih lanjut. Penutupan anak perusahaan ini menyebabkan batalnya rute regional ke beberapa kota seperti Bydgoszcz dan Rzeszów di Polandia, serta Stavanger di Norwegia. Rute-rute tersebut kini dialihkan melalui pusat penerbangan utama lainnya agar pesawat yang ada digunakan lebih efisien.

Perubahan jadwal ini memengaruhi perjalanan di wilayah Eropa. Penumpang kini akan menghadapi berkurangnya pilihan penerbangan harian dan kemungkinan kenaikan harga tiket pada rute yang masih beroperasi.

"Keputusan ini sangat besar dan bisa diikuti oleh maskapai lain. Selama konflik berlanjut dan harga bahan bakar tinggi, kemungkinan akan ada lebih banyak pengurangan jadwal di industri penerbangan," kata pakar ekonomi senior dari ING Research, Rico Luman.

3. Cadangan bahan bakar pesawat di Eropa diperkirakan hanya cukup untuk 6 minggu

Lufthansa. (unsplash.com/tim_denn)

Kekhawatiran tentang ketersediaan energi di Eropa meningkat setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan cadangan bahan bakar pesawat di Eropa hanya cukup untuk enam minggu jika tidak ada tambahan pasokan baru.

"Kita saat ini berada dalam situasi yang sulit, dan hal ini akan berdampak besar pada ekonomi global, termasuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia," kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol.

Untuk merespons potensi kelangkaan tersebut, Uni Eropa sedang mempertimbangkan beberapa langkah antisipasi. Langkah ini termasuk mengoordinasikan penyimpanan gas untuk musim panas dan mencari sumber bahan bakar pesawat alternatif dari AS agar sektor pariwisata dan bisnis tetap berjalan saat liburan mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team