Penumpang Maskapai Asia Rute Eropa Meningkat saat Konflik Timur Tengah

- Permintaan penerbangan Asia–Eropa melonjak karena konflik di Timur Tengah mengganggu hub Teluk, mendorong penumpang beralih ke maskapai seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific, Korean Air, dan Qantas.
- Meskipun harga avtur naik, maskapai tetap mencatat keuntungan signifikan dengan strategi efisiensi biaya dan pengalihan armada untuk memenuhi lonjakan permintaan rute jarak jauh.
- Bandara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, Tokyo, dan Kuala Lumpur kini menjadi titik transit utama baru bagi perjalanan internasional menuju Eropa menggantikan Dubai dan Doha.
Jakarta, IDN Times - Industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik mencatat kenaikan permintaan perjalanan menuju Eropa. Kondisi ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu operasional hub transit di wilayah Teluk, sehingga penumpang beralih ke rute alternatif.
Maskapai seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, Korean Air, dan Qantas mencatat pertumbuhan operasional pada rute internasional mereka pada Maret lalu. Meski menghadapi kenaikan harga bahan bakar avtur, maskapai tersebut mampu menyerap peralihan penumpang yang menghindari jalur penerbangan Timur Tengah.
1. Jumlah penumpang maskapai Asia ke rute Eropa bertambah

Singapore Airlines mencatat load factor atau tingkat keterisian kursi pada rute menuju Eropa mencapai 93,5 persen selama bulan Maret 2026. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni 79,7 persen.
"Kenaikan jumlah penumpang didorong oleh permintaan perjalanan menjelang liburan Paskah dan pengalihan rute ke Eropa karena jadwal penerbangan di wilayah Timur Tengah terganggu oleh konflik yang sedang terjadi," kata juru bicara Singapore Airlines Group, dilansir Investing.
Cathay Pacific Airways di Hong Kong turut menambah kapasitas penerbangan untuk merespons kondisi pasar. Maskapai ini memperbanyak jadwal keberangkatan ke kota-kota utama di Eropa bagi penumpang yang memilih transit di Asia Timur.
"Kami menambah jadwal dan kapasitas penerbangan ke Eropa pada bulan Maret dan April untuk melayani tingginya permintaan karena penumpang memilih rute penerbangan lain," ujar Chief Customer and Commercial Officer Cathay Pacific, Lavinia Lau, dilansir Economic Times.
Lavinia Lau memperkirakan pemesanan tiket penerbangan jarak jauh akan terus bertambah pada kuartal ini. Data dari Bandara Internasional Incheon di Seoul juga menunjukkan pergeseran titik transit dengan bertambahnya penumpang transfer menuju Eropa. Korean Air mencatat pendapatan dari rute Eropa naik 18 persen dibandingkan tahun lalu.
Analis penerbangan menilai peralihan ini menunjukkan kehati-hatian penumpang terhadap risiko pembatalan atau keterlambatan jadwal di bandara kawasan Teluk, seperti Dubai dan Doha.
Qantas, maskapai asal Australia, juga menyesuaikan rute internasionalnya untuk memenuhi permintaan perjalanan ke Eropa. Qantas mengalihkan sebagian armada dari rute domestik dan trans-Pasifik guna menambah kapasitas kursi ke rute Eropa.
2. Maskapai hadapi beban biaya karena kenaikan harga bahan bakar

Korean Air mencatat laba operasional naik 47,3 persen menjadi 517 miliar won (Rp6,15 triliun) pada kuartal pertama 2026, meski biaya bahan bakar meningkat. Keuntungan ini ditopang oleh tingginya permintaan penumpang transit antara Asia dan Eropa melalui Bandara Incheon.
"Kenaikan jumlah penumpang antara Eropa dan Asia memberikan dampak positif, namun kami tetap mewaspadai fluktuasi harga bahan bakar yang dapat memengaruhi keuntungan kami ke depan," tulis manajemen Korean Air dalam laporan keuangannya.
Untuk mengendalikan risiko, Korean Air menjalankan sistem manajemen darurat guna melakukan efisiensi biaya. Langkah ini mencakup penghematan energi dan perbaikan strategi pembelian bahan bakar untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
Sektor kargo udara juga mencatat peningkatan pengiriman karena gangguan jalur logistik di Timur Tengah dan Laut Merah. Korean Air membukukan kenaikan pendapatan kargo sebesar 3,5 persen dengan mengalihkan rute pesawat ke area berpermintaan tinggi.
Maskapai ini juga mengubah jadwal penetapan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar, dari setiap tiga bulan menjadi setiap bulan, agar harga lebih sesuai dengan kondisi pasar.
Qantas juga merelokasi operasional pesawatnya untuk menyeimbangkan tingginya biaya di rute jarak jauh. Maskapai ini menarik pesawat Boeing 787 Dreamliner dari rute Amerika Serikat ke rute Eropa yang dinilai memberikan pendapatan lebih baik.
Langkah ini diambil untuk menjaga arus pendapatan, meskipun harga tiket ke Eropa disesuaikan guna menutupi kenaikan harga avtur. Qantas menyatakan kebijakan ini adalah respons terhadap banyaknya calon penumpang yang mencari rute di luar jalur Timur Tengah.
3. Bandara di Asia menjadi pilihan transit baru bagi rute jarak jauh

Qantas Airways mengumumkan penambahan 1.400 kursi per minggu menuju kota-kota di Eropa seperti Paris dan Roma. Qantas mengalihkan jalur penerbangan Sydney-Paris yang sebelumnya melalui Perth, menjadi rute baru yang transit di Singapura guna memaksimalkan kapasitas pesawat.
"Qantas melihat tingginya permintaan untuk perjalanan internasional ke Eropa, karena penumpang mencari rute penerbangan lain guna menghindari wilayah Teluk yang sedang terganggu," ujar juru bicara Qantas.
Airservices Australia mencatat bandara di Asia kini banyak digunakan untuk perjalanan jarak jauh dari Australia. Rute penerbangan yang sebelumnya didominasi transit di Dubai dan Doha, kini bergeser ke Singapura, Hong Kong, Tokyo, dan Kuala Lumpur.
Singapore Airlines juga melakukan penyesuaian jadwal pada pertengahan 2026 untuk memperkuat konektivitas di hub Changi. Maskapai menambah frekuensi penerbangan ke berbagai kota di Asia untuk melayani penumpang transit menuju Eropa.


















