Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Stok Avtur Menipis, Maskapai Eropa Minta Bantuan Darurat dari Uni Eropa

Stok Avtur Menipis, Maskapai Eropa Minta Bantuan Darurat dari Uni Eropa
bendera uni eropa (unsplash.com/ALEXANDRE LALLEMAND)
Intinya Sih
  • Maskapai Eropa meminta Uni Eropa mengambil langkah darurat akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan avtur dan mengancam kelancaran penerbangan internasional.
  • A4E mendesak pembentukan sistem pengadaan bahan bakar bersama, penangguhan pajak tiket, serta revisi aturan cadangan minyak agar stok avtur lebih terjamin di seluruh negara anggota.
  • Penutupan wilayah udara di kawasan Teluk memaksa maskapai mengalihkan rute, meningkatkan biaya operasional, memperpanjang waktu tempuh, dan mendorong kenaikan harga tiket bagi penumpang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sejumlah maskapai penerbangan di Eropa meminta otoritas Uni Eropa di Brussels untuk segera mengambil langkah darurat. Permintaan ini muncul karena konflik di Timur Tengah telah mengganggu pasokan energi dunia dan berdampak signifikan pada industri penerbangan.

Saat ini, operasional transportasi udara mengalami kendala akibat penutupan wilayah di Timur Tengah dan kekhawatiran terkait menipisnya stok bahan bakar pesawat (avtur) yang berisiko menghambat penerbangan internasional.

Krisis ini bermula dari konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran sejak akhir Februari lalu. Penutupan jalur maritim di Selat Hormuz telah menghambat pengiriman minyak mentah dan produk kerosin global. Kelompok industri Airlines for Europe (A4E) memperingatkan bahwa tanpa intervensi segera dari Uni Eropa, maskapai akan menghadapi kekurangan avtur dan biaya operasional akan meningkat tajam.

Table of Content

1. Maskapai minta bantuan darurat dan pemantauan stok avtur

1. Maskapai minta bantuan darurat dan pemantauan stok avtur

Kelompok A4E, yang mewakili maskapai besar seperti Lufthansa, Air France-KLM, easyJet, dan Brussels Airlines, telah mengirimkan surat resmi kepada Komisi Eropa. Mereka mendesak Uni Eropa untuk segera menjalankan rencana darurat, yang mencakup pemantauan stok bahan bakar di seluruh wilayah Eropa, penangguhan sementara Sistem Perdagangan Emisi (ETS) untuk sektor penerbangan, serta penghapusan pajak tiket pesawat. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan kerugian ekonomi akibat konflik tersebut.

Maskapai juga mengusulkan pembentukan sistem pengadaan bahan bakar bersama di tingkat Uni Eropa. Skema serupa pernah berhasil diterapkan untuk pembelian gas alam pada tahun 2022 saat terjadi perang di Ukraina. Peringatan senada juga disampaikan oleh Airports Council International Europe (ACI) terkait terbatasnya ketersediaan energi saat ini.

"Eropa dapat menghadapi kekurangan bahan bakar pesawat secara sistemik dalam waktu tiga minggu jika jalur logistik maritim di kawasan Teluk tidak segera kembali normal," menurut pernyataan resmi pihak ACI, dilansir Dawn.

2. Evaluasi aturan stok energi dan status izin terbang

Selain skema pembelian bersama, pihak maskapai meminta Uni Eropa untuk menyesuaikan aturan mengenai cadangan minyak darurat. Berdasarkan regulasi saat ini, setiap negara anggota wajib menyimpan cadangan minyak selama 90 hari, namun tidak ada rincian spesifik mengenai kewajiban penyimpanan stok avtur. Hal ini memicu kekhawatiran karena volume cadangan avtur antarnegara berbeda-beda.

Lebih lanjut, maskapai meminta kejelasan mengenai status jadwal terbang di bandara. Mereka mengusulkan agar pembatalan penerbangan yang diakibatkan oleh penutupan wilayah udara imbas perang diklasifikasikan sebagai keadaan kahar (force majeure), guna melindungi hak operasional maskapai di masa mendatang.

3. Penutupan wilayah udara tingkatkan biaya dan waktu tempuh

Efisiensi operasional maskapai terus menurun sejak eskalasi konflik pada 28 Februari 2026. Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) telah mengeluarkan larangan terbang bagi maskapai Eropa di atas wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, hingga 24 April 2026. Kebijakan ini memaksa maskapai untuk mengalihkan rute melalui Turki atau Ethiopia, yang berdampak pada bertambahnya durasi penerbangan, peningkatan konsumsi bahan bakar, dan naiknya emisi karbon.

Laporan bulanan dari International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa 75 persen kebutuhan avtur Eropa diimpor dari kawasan Timur Tengah. Jika gangguan logistik di Selat Hormuz berlanjut, IEA memproyeksikan Eropa akan mulai mengalami defisit pasokan fisik bahan bakar pesawat pada Juni 2026. Merespons potensi kelangkaan ini, sejumlah maskapai terpaksa menaikkan harga tiket dan membebankan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) kepada konsumen guna menyeimbangkan peningkatan biaya operasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More