ilustrasi palu di pengadilan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)
Scott Lincicome dari Cato Institute menilai proses refund bisa saja berjalan sederhana, namun ia memprediksi hal sebaliknya.
“Tampaknya lebih mungkin bahwa lebih banyak litigasi dan dokumen akan dibutuhkan,” katanya.
Salah satu aspek teknis yang menjadi sorotan adalah proses “liquidations,” yakni perhitungan final tarif yang terutang atas barang impor. Sejumlah perusahaan telah mengajukan gugatan lebih awal karena khawatir proses tersebut memberi celah bagi pemerintah untuk menolak refund.
Costco termasuk perusahaan yang sebelumnya menggugat pemerintahan Trump ke CIT. Dalam gugatannya disebutkan, perusahaan “memohon perlindungan dari proses likuidasi yang akan datang untuk memastikan haknya atas refund penuh tidak terancam.”
Menurut analisis Bloomberg, lebih dari 1.500 perusahaan telah mengajukan gugatan terkait tarif di CIT. Smithweiss juga menyinggung tekanan politik yang mungkin dihadapi perusahaan, setelah Trump menyebut penggugat tarif sebagai “sleazebags.”
“Tentu ada banyak perusahaan arus utama Amerika yang ingin menghindari label tersebut dari presiden, terlepas mereka setuju atau tidak dengan kebijakan tarif,” katanya, “namun hingga hari ini, hanya ada satu mekanisme untuk memaksa refund, yakni melalui litigasi di pengadilan.”
Meski Mahkamah Agung AS telah membatalkan tarif “blanket” Trump, kepastian mengenai refund masih bergantung pada proses hukum lanjutan. Dengan potensi nilai hingga ratusan miliar dolar, perusahaan kini bersiap menghadapi proses litigasi yang diperkirakan panjang dan kompleks.
Apakah perusahaan otomatis mendapat refund tarif? | Tidak, refund diperkirakan memerlukan proses litigasi tambahan. |
Berapa potensi nilai refund tarif? | Penn Wharton memperkirakan hingga 175 miliar dolar AS atau sekitar Rp295,61 triliun. |
Apa langkah Trump setelah putusan? | Trump menandatangani tarif global baru 10 persen yang kemudian dinaikkan menjadi 15 persen. |