Melihat dari Kacamata Corsec BUMN Karya WIKA, Ngatemin

WIKA masih menjalani penyehatan keuangan, restrukturisasi, transformasi bisnis, dan konsolidasi. Corporate Secretary Ngatemin berperan menjembatani komunikasi serta menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.
Ngatemin mengandalkan integritas, transparansi-akurasi, responsivitas, dan rasa memiliki untuk menyampaikan informasi yang jelas, relevan, tepat waktu, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Tim Corsec WIKA mengomunikasikan manfaat proyek bagi pembangunan nasional dan masyarakat, sambil mengandalkan kolaborasi lintas fungsi serta dukungan keluarga dalam ritme kerja komunikasi korporasi.
Jakarta, IDN Times - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor karya masih berkutat pada agenda besar, yakni penyehatan keuangan, restrukturisasi, transformasi bisnis, hingga konsolidasi.
Salah satu BUMN karya yang menghadapi proses itu adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Manajemen saat ini tengah berupaya memastikan kinerja perusahaan bisa dikembalikan ke tren pertumbuhan, di saat industri konstruksi juga masih menghadapi tantangan.
Untuk mewujudkan misi tersebut, peran Corporate Secretay (Corsec) menjadi sangat penting. Corsec WIKA, Ngatemin mengatakan, dirinya terus berupaya menjadi jembatan komunikasi dan penjaga kepercayaan antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan.
“Corporate Secretary harus mampu membaca situasi, memahami substansi, berkoordinasi dengan berbagai fungsi, kemudian menerjemahkannya menjadi komunikasi yang relevan, jelas, dan dapat dipahami publik,” ujar Ngatemin kepada IDN Times, Minggu (11/10/2026).
1. Pegang teguh 4 prinsip dalam pekerjaan sehari-hari

Potret Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Ngatemin saat sedang bertugas. (dok. WIKA) Ngatemin adalah lulusan Sarjana Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta (2001), dan Magister Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung atau ITB (2013).
Sebelum menjadi Corsec WIKA, Ngatemin pernah menjabat sebagai General Manager Operasi 3 Divisi Infrastruktur 2 (2024-Mei 2025), General Manager Operasi 4 Divisi Infrastruktur 2 (2023), dan General Manager Operasi 2 Divisi Infrastruktur 1 (2023).
Dia memegang sejumlah sertifikasi, seperti Ahli Utama Manajemen Proyek, Ahli Madya Bendungan Besar dan Advanced Leadership Program Aalto University Finlandia. Dengan bekal itu, Ngatemin berusaha menjalankan tugasnya sebagai Corsec dengan berpegang teguh pada lima prinsip.
Pertama, integritas, untuk memastikan pesan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, transparansi dan akurasi. Dia berpendapat, komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana memastikan informasi tersebut benar, relevan, memiliki konteks yang tepat, dan disampaikan kepada stakeholders pada waktu yang tepat.
“Terlebih bagi perusahaan publik seperti WIKA, setiap informasi yang disampaikan memiliki konsekuensi terhadap persepsi dan kepercayaan stakeholders,” ucap Ngatemin.
Ketiga, responsiveness, karena dunia bisnis bergerak sangat cepat. Informasi hari ini dapat menjadi perhatian publik dalam hitungan menit. Adapun prinsip terakhir ialah sense of ownership yang melahirkan Corsec yang harus mampu membaca situasi, memahami substansi, berkoordinasi dengan berbagai fungsi, kemudian menerjemahkannya menjadi komunikasi yang relevan, jelas, dan dapat dipahami publik.
“Dalam praktiknya, tantangan sebagai Corporate Secretary cukup kompleks. Kita berhadapan dengan stakeholders yang memiliki kebutuhan dan ekspektasi berbeda-beda, mulai dari regulator, investor, pemegang saham, media, mitra kerja, hingga masyarakat,” ucap Ngatemin.
2. Kawal keberhasilan proyek tanpa melupakan aspek manfaat bagi masyarakat

Potret Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Ngatemin saat sedang bertugas. (dok. WIKA) Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dan infrastruktur, WIKA tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Oleh karena itu, tim Corsec melihat pentingnya memastikan sebuah program dan kapabilitas perusahaan dapat terhubung dengan prioritas pemerintah.
“Peran Corporate Secretary dalam hal ini bukan hanya menyampaikan informasi mengenai proyek yang sedang dikerjakan, tetapi juga membangun narasi yang menjelaskan relevansi dan manfaat proyek tersebut,” ujar Ngatemin.
Ngatemin mengatakan, dirinya dan tim berupaya memastikan publik memahami bagaimana kompetensi dan pengalaman WIKA berkontribusi terhadap pembangunan nasional, baik melalui pembangunan infrastruktur, dukungan terhadap ketahanan pangan, penanganan keadaan darurat nasional dan daerah, hilirisasi, serta berbagai proyek strategis lainnya.
Sebagai contoh, proyek-proyek yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur sosial, seperti sekolah rakyat, irigasi untuk optimalisasi lahan pertanian, serta keterlibatan dalam penanganan tanggap darurat memiliki nilai komunikasi yang penting.
“Proyek-proyek tersebut tidak cukup hanya disampaikan melalui informasi mengenai nilai kontrak, progres pekerjaan, atau penyelesaian konstruksi. Kami juga perlu menjelaskan manfaat yang dihasilkan, masyarakat yang merasakan dampaknya, serta kontribusinya terhadap pembangunan yang lebih luas,” tutur Ngatemin.
3. Andalkan kolaborasi dan dukungan keluarga

Potret Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Ngatemin saat sedang bertugas. (dok. WIKA) Ngatemin mengatakan, posisi Corporate Secretary adalah sebuah pekerjaan yang sangat membutuhkan kolaborasi. Dia bahkan menekankan tidak ada satu orang pun yang bisa menjalankan fungsi tersebut sendirian.
Corporate Secretary berhubungan dengan hampir seluruh bagian perusahaan, sehingga kemampuan untuk berkolaborasi menjadi sangat penting.
“Bagi saya, keberhasilan Corporate Secretary bukan keberhasilan satu orang. Kalau ada satu pencapaian yang terlihat di depan, sebenarnya ada banyak orang yang bekerja di belakangnya ucap Ngatemin.
Lebih lanjut Ngatemin mengatakan, pekerjaan di bidang komunikasi korporasi juga memiliki ritme yang tidak selalu mengenal waktu. Ada agenda yang berlangsung pagi, ada kegiatan yang berlangsung sampai tengah malam bahkan dini hari. Ada isu yang muncul di luar jam kerja, dan terkadang dia harus tetap memberikan perhatian terhadap pekerjaan ketika sedang berada di rumah.
“Karena itu, dukungan dari keluarga menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bukan hanya dalam bentuk dukungan secara langsung, tetapi juga dalam bentuk pengertian dan ruang untuk menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya," tutur Ngatemin.
Ngatemin mengatakan, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan berarti seseorang harus membagi waktu dengan ukuran yang selalu sama. Namun, ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar, tetapi ada pula saatnya kita benar-benar harus hadir untuk keluarga.
“Yang saya coba lakukan adalah ketika sedang bekerja, saya berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaan. Tetapi ketika sudah bersama keluarga, saya juga berusaha untuk benar-benar hadir dan menikmati waktu bersama mereka,” ucap dia.
Ngatemin mengatakan, menjadi Corporate Secretary bukan hanya tentang menjaga komunikasi perusahaan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, baik dengan stakeholders, rekan kerja, maupun dengan orang-orang terdekat yang selalu mendukung perjalanan kita.
























