Menanti Data Inflasi AS, Rupiah Ditutup Melemah Tipis Hari Ini

Rupiah ditutup di level Rp17.903 per dolar AS, melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelaku pasar menanti data inflasi AS karena dapat memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.
IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,1 persen, sementara rupiah diperkirakan melemah pada Kamis.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.903 per dolar AS pada sore ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.900 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 20 poin. Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.907 per dolar AS.
1. Pelaku pasar menanti data inflasi AS
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar menantikan laporan inflasi AS yang dijadwalkan rilis malam ini. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Para pelaku pasar kini menantikan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam ini guna mendapatkan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga," kata Ibrahim.
Inflasi AS diukur melalui Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index. Ibrahim mengatakan inflasi AS pada September 2026 mencapai 0,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi daripada inflasi bulanan Agustus yang sebesar 0,4 persen.
Secara tahunan, inflasi AS diperkirakan naik menjadi 3,7 persen dari 3,4 persen pada periode sebelumnya. Data inflasi menjadi salah satu pertimbangan The Fed dalam menentukan suku bunga.
2. IMF naikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia
Di sisi lain, kabar positif datang dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen, dari proyeksi sebelumnya sebesar 5 persen.
"Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari laporan sebelumnya pada Juli 2026 yakni 5 persen," ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut tercantum dalam laporan IMF edisi Oktober 2026, meningkat dibandingkan perkiraan yang diterbitkan pada Juli 2026. Namun, IMF juga memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3 persen secara tahunan pada 2026.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 tidak berubah. IMF tetap memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada tahun depan.
3. Rupiah diperkirakan melemah pada perdagangan Kamis
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Menurutnya, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah dalam 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp16.560 hingga Rp18.209 per dolar AS. Secara tahunan (year-to-date/ytd), rupiah tercatat melemah 7,33 persen.






















