ilustrasi utang (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
Mengutip First Post, besarnya pengeluaran untuk jaminan sosial, termasuk pensiun, kesehatan, dan pendidikan, membuat belanja pemerintah Prancis terus melampaui pendapatannya. Institut Statistik Nasional Prancis (Insee) mencatat utang publik mencapai 3,46 triliun euro (sekitar Rp70.055 triliun) pada akhir 2025, setara 115,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meskipun defisit turun dari 5,8 persen pada 2024 menjadi 5,1 persen pada 2025.
Penerimaan pajak juga tertekan akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat ekonomi Prancis tumbuh rata-rata 1,4 persen sejak 2023, sementara proyeksi pertumbuhan pada 2026 telah dipangkas menjadi 0,5 persen.
Menurut estimasi Dana Moneter Internasional (IMF), rasio utang neto Prancis mencapai 110 persen dari PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan Jerman sebesar 49 persen dan Kanada sebesar 10 persen. Sebagai perbandingan, Jepang memiliki rasio utang sebesar 204 persen dari PDB dengan hanya 8 persen di antaranya dipegang investor asing, sedangkan AS menghadapi pagu utang sebesar 41,1 triliun dolar AS (sekitar Rp832 kuadriliun).
Tekanan di pasar obligasi turut terlihat dari imbal hasil surat utang pemerintah Prancis bertenor 10 tahun yang mencapai 4,79 persen pada Jumat (16/10/2026), setelah sempat mendekati 5 persen, level tertinggi sejak 2002. Selisih imbal hasil dengan obligasi Jerman berada di kisaran 1,4 poin, sementara pembayaran bunga utang diperkirakan meningkat hingga 91 miliar euro (sekitar Rp1.842 triliun) pada 2027.
Meski menghadapi tekanan fiskal, peringkat kredit Prancis masih berada di level A+ menurut Fitch dan Standard & Poor’s (S&P), serta Aa3 dengan prospek negatif menurut Moody’s. Posisi tersebut masih berbeda dari krisis utang Yunani pada 2015 dan gejolak imbal hasil obligasi Inggris yang mencapai 5,29 persen pada September, sedangkan kebijakan moneter Prancis tetap berada di bawah Bank Sentral Eropa (ECB) yang mengatur seluruh zona euro, seperti ketika Italia menghadapi tekanan untuk mengubah anggaran pada 2011.