Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Prancis Pinjam Utang Rp6.883 Triliun di Tengah Krisis?
potret bendera Prancis (pexels.com/Walter Coppola)
  • Prancis berencana meminjam 340 miliar euro pada 2027 saat utang publik mencapai 115,6 persen PDB, pertumbuhan melambat, dan biaya bunga diproyeksikan naik menjadi 91 miliar euro.
  • Demonstrasi nasional menyoroti buruknya layanan publik, biaya hidup, dan harga bahan bakar; aksi 17 Oktober 2026 melibatkan sekitar 550 ribu orang serta memicu penahanan dan korban.
  • Pemerintah menghadapi kebuntuan parlemen dalam pengesahan anggaran, sembari menargetkan defisit 5 persen pada 2027 melalui penghematan 54 miliar euro.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Prancis berencana meminjam dana sebesar 340 miliar euro pada 2027, (sekitar Rp6.883 triliun), di tengah ancaman krisis fiskal, gelombang demonstrasi nasional, dan kebuntuan politik di parlemen. Dilansir WION News, jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,3 miliar euro (Rp26,3 triliun) untuk setiap hari kerja.

Kerentanan fiskal Prancis turut dipengaruhi oleh besarnya kepemilikan investor asing atas utang negara. Bank Sentral Prancis mencatat, investor nonresiden menguasai sekitar 56 persen utang negara yang dapat diperdagangkan pada akhir 2025, kemudian meningkat menjadi 63 persen untuk surat utang jangka panjang pada akhir Juni 2026.

1. Prancis menghadapi beban utang yang terus membesar

ilustrasi utang (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Mengutip First Post, besarnya pengeluaran untuk jaminan sosial, termasuk pensiun, kesehatan, dan pendidikan, membuat belanja pemerintah Prancis terus melampaui pendapatannya. Institut Statistik Nasional Prancis (Insee) mencatat utang publik mencapai 3,46 triliun euro (sekitar Rp70.055 triliun) pada akhir 2025, setara 115,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meskipun defisit turun dari 5,8 persen pada 2024 menjadi 5,1 persen pada 2025.

Penerimaan pajak juga tertekan akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat ekonomi Prancis tumbuh rata-rata 1,4 persen sejak 2023, sementara proyeksi pertumbuhan pada 2026 telah dipangkas menjadi 0,5 persen.

Menurut estimasi Dana Moneter Internasional (IMF), rasio utang neto Prancis mencapai 110 persen dari PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan Jerman sebesar 49 persen dan Kanada sebesar 10 persen. Sebagai perbandingan, Jepang memiliki rasio utang sebesar 204 persen dari PDB dengan hanya 8 persen di antaranya dipegang investor asing, sedangkan AS menghadapi pagu utang sebesar 41,1 triliun dolar AS (sekitar Rp832 kuadriliun).

Tekanan di pasar obligasi turut terlihat dari imbal hasil surat utang pemerintah Prancis bertenor 10 tahun yang mencapai 4,79 persen pada Jumat (16/10/2026), setelah sempat mendekati 5 persen, level tertinggi sejak 2002. Selisih imbal hasil dengan obligasi Jerman berada di kisaran 1,4 poin, sementara pembayaran bunga utang diperkirakan meningkat hingga 91 miliar euro (sekitar Rp1.842 triliun) pada 2027.

Meski menghadapi tekanan fiskal, peringkat kredit Prancis masih berada di level A+ menurut Fitch dan Standard & Poor’s (S&P), serta Aa3 dengan prospek negatif menurut Moody’s. Posisi tersebut masih berbeda dari krisis utang Yunani pada 2015 dan gejolak imbal hasil obligasi Inggris yang mencapai 5,29 persen pada September, sedangkan kebijakan moneter Prancis tetap berada di bawah Bank Sentral Eropa (ECB) yang mengatur seluruh zona euro, seperti ketika Italia menghadapi tekanan untuk mengubah anggaran pada 2011.

2. Demonstrasi Prancis menuntut perbaikan layanan publik

ilustrasi demonstrasi (pexels.com/Mike González)

Gelombang demonstrasi di berbagai kota Prancis dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap kondisi fasilitas dan layanan publik. Mahasiswa dan pelajar memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan tenaga pengajar, bangunan sekolah yang rusak, serta fasilitas yang dinilai belum siap menghadapi cuaca panas, sementara massa lainnya menyuarakan keberatan atas kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar.

Aksi tersebut juga berujung pada bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan yang menimbulkan korban jiwa serta luka-luka. Cable News Network (CNN) melaporkan sekitar 550 ribu orang turun ke jalan pada 17 Oktober 2026, dengan 1.800 orang ditahan, lebih dari 500 polisi terluka, dan satu demonstran meninggal dunia.

Menanggapi bentrokan tersebut, menteri dalam negeri Prancis menyatakan bahwa kebebasan menyampaikan protes merupakan hak mendasar, tetapi tindakan kekerasan yang disengaja tak termasuk di dalamnya.

3. Pemerintah Prancis menghadapi kebuntuan anggaran

Bendera Prancis (pexels.com/Atypeek Dgn)

Pemerintah Prancis berupaya meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran di tengah ketiadaan mayoritas di parlemen. Majelis Nasional telah memulai pembahasan pendapatan sejak 13 Oktober 2026, dengan pemungutan suara untuk bagian pendapatan dijadwalkan pada 20 Oktober 2026 dan pengambilan keputusan atas keseluruhan RUU pada 17 November 2026.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu berjanji tetap mengandalkan proses parlemen, kecuali muncul hambatan fatal. Namun, La France Insoumise mengancam mengajukan mosi kecaman apabila pemerintah menggunakan prosedur untuk meloloskan anggaran tanpa pemungutan suara, sementara pemerintah menargetkan defisit turun menjadi 5 persen pada 2027 melalui penghematan 54 miliar euro (sekitar Rp1.093 triliun), setelah memperkirakan defisit 2026 mencapai 5,4 persen.

Ekonom Paul Krugman, dalam esainya pada Oktober, menilai kesulitan Presiden Emmanuel Macron menaikkan usia pensiun dari 62 menjadi 64 tahun menjadi salah satu akar persoalan anggaran Prancis. Tantangan memperoleh dukungan parlemen juga disampaikan Laurent Panifous, menteri hubungan dengan Parlemen, yang menilai pengesahan anggaran melalui pemungutan suara akan sangat sulit.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada 6 Oktober 2026 mengeklaim tanpa bukti bahwa gelombang demonstrasi di Prancis dipicu oleh migrasi massal dan Islam, sekaligus mendesak penutupan perbatasan. Namun, laporan Agence France-Presse (AFP) menyebutkan bahwa gerakan mahasiswa tersebut tak berkaitan dengan tuntutan yang berlandaskan agama maupun identitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article