Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Oposisi Prancis Kritik Macron atas Kerusuhan dan Penjarahan di Prancis

2 min read
Oposisi Prancis Kritik Macron atas Kerusuhan dan Penjarahan di Prancis
ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/luizagiannelli)
  • Oposisi sayap kanan dan kiri menuding pemerintah Prancis memicu krisis setelah kerusuhan serta penjarahan yang mengikuti demonstrasi siswa SMA terkait persoalan pendidikan.
  • Jean-Luc Melenchon mengkritik penanganan demonstrasi dan menilai pemerintah tidak mampu mengambil keputusan, sementara Marine Le Pen menyebut Macron mengancam demokrasi Prancis.
  • Menjelang pilpres 2027, survei Odoxa mencatat elektabilitas Le Pen 38 persen dan Melenchon 18,5 persen, melampaui kandidat dari kubu Macron.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Oposisi sayap kanan dan kiri di Prancis menuding pemerintah Prancis yang memicu krisis dan mengancam demokrasi pada Minggu (18/10/2026). Pernyataan ini menyusul kerusuhan dan penjarahan di Prancis buntut dari demonstrasi besar-besaran siswa SMA. 

Beberapa pekan terakhir, demonstrasi siswa SMA sudah bergulir di Prancis. Demo tersebut untuk mendorong pemerintah memperbaiki masalah kelebihan kapasitas sekolah, kurangnya gaji guru, dan berbagai masalah pendidikan lainnya. 

  1. 1. Melenchon sebut pemerintah bermain dengan api

    ilustrasi bendera Prancis
    ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky)

    Politikus sayap kiri Prancis sekaligus Ketua Partai La France Insoumise, Jean-Luc Melenchon mengatakan bahwa pemerintah Prancis sudah bermain dengan api. Alhasil, seluruh persatuan pekerja dan siswa bersatu untuk menuntut pemerintah. 

    Dilansir Democrata, ia mengkritik polisi yang meninjau kembali aksinya dalam mengatasi demonstrasi besar ini. Menurutnya, pemerintah juga sudah menunjukkan ketidakmampuan dalam memutuskan. 

    “Pemerintah saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memutuskan. Mereka jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah seorang negarawan. Mereka hanya memicu krisis rezim. Mereka akan meninggalkan Anda semua jika mendapatkan kesempatan pertama,” tuturnya. 

  2. 2. Le Pen sebut Macron mengancam demokrasi Prancis

    Marine Le Pen
    Politikus Sayap Kanan Prancis, Marine Le Pen. (Vox España, CC0, via Wikimedia Commons)

    Sehari sebelumnya, politikus sayap kanan Prancis, Marine Le Pen ikut menanggapi mengenai kerusuhan dan penjarahan di negaranya. Ia menyebut bahwa Presiden Prancis, Emmanuel Macron sebagai ancaman demokrasi Prancis. 

    “Kami mengalami krisis kepercayaan diri. Ini adalah sebuah ancaman untuk demokrasi. Ini adalah dampak memperbolehkan calon sayap kiri jauh dan Macron untuk berkuasa tanpa kredibilitas dan otoritas,” terangnya, dikutip dari Euronews.

    Selain itu, politikus sayap kanan lainnya, Jordan Bardella menilai bahwa kerusuhan dan penjarahan di Prancis saat ini memalukan. Sebab tidak berlakunya peraturan di Prancis saat ini. 

  3. 3. Le Pen dan Melenchon peroleh momentum naikkan elektabilitas jelang pilpres Prancis

    Calon Presiden Prancis, Gabriel Attal.
    Calon Presiden Prancis, Gabriel Attal. (Antoine Lamielle, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Demonstrasi besar di Prancis ini membuat calon presiden oposisi utama, yakni Le Pen dan Melenchon berhasil peroleh momentum pada pemilihan presiden (pilpres) 2027. Elektabilitas keduanya naik dibanding calon dari partai Macron, Renaissance. 

    Berdasarkan survei Odoxa kepada 12 ribu responden, dilansir dari Internazionale, elektabilitas Le Pen melonjak hingga menembus 38 persen. Sedangkan Melenchon berada di posisi kedua dengan raihan 18,5 persen suara. 

    Sementara, calon dari partai aliran tengah, yakni Partai Horizon, Edouard Philippe mendapatkan 17 persen. Calon dari Partai Renaissance, Gabriel Attal hanya memperoleh 11 persen suara dalam survei kali ini.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More