Mentan Ancam Cabut Izin Feedlotter-RPH yang Naikkan Harga Jelang Puasa

- Izin usaha feedlotter yang melanggar kesepakatan harga berpotensi dicabut.
- Pemerintah targetkan harga pangan stabil saat Ramadan dan Idul Fitri
- Stok pangan diklaim aman hingga Lebaran
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah akan menindak tegas pelaku usaha yang menaikkan harga daging secara tidak wajar, terlebih menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Amran mengatakan, pemerintah telah membentuk tim pengawasan di seluruh Indonesia yang melibatkan aparat kepolisian, khususnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Krimsus) di tiap Polda. Dia menegaskan, izin usaha feedlotter yang melanggar kesepakatan harga berpotensi dicabut.
"Ke depan kalau ada yang naikkan harga feedlotter, kami cek, kami monitor. Tim ini ada seluruh Indonesia Kami bentuk dan setiap Polda itu dikrimsus yang memimpin. Kalau ada yang menaikkan izinnya kami cabut," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Kamis (12/2/2026).
1. Pemerintah targetkan harga pangan stabil saat Ramadan dan Idul Fitri

Amran menyampaikan target utama pemerintah adalah memastikan konsumen menikmati harga pangan yang stabil selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Dia mengatakan, pemerintah telah meminta seluruh feedlotter dan rumah potong hewan (RPH) tidak menaikkan harga. Menurutnya, pelaku usaha yang terdeteksi menaikkan harga sudah langsung ditegur, dan pengawasan akan diperketat ke depan.
"Apalagi Idul Fitri, Ramadan, itu menikmati harga yang baik dibanding sebelumnya. Nggak boleh harga naik. Kemarin ada yang kami sudah sepakat seluruh feedlotter dan RPH itu kami minta bggak menaikkan harga. Ada yang naikkan satu langsung kami tegur," tegas dia.
2. Stok pangan diklaim aman hingga Lebaran

Amran juga melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto, stok pangan nasional berada dalam kondisi surplus untuk dua bulan ke depan dan dinilai lebih dari cukup hingga Idul Fitri.
Dia menyebut sekitar sembilan bahan pokok sudah berada dalam kondisi swasembada dan sebagian bahkan diekspor, seperti minyak goreng, beras, dan bawang merah. Komoditas yang masih bergantung pada impor juga dipastikan tersedia dalam jumlah memadai.
"Ada sembilan bahan pokok kita, itu adalah swasembada dan ekspor minyak goreng, beras, bawang merah, dan seterusnya. Kemudian yang impor juga cukup. Jadi ada 11-12 bahan pokok cukup sampai, lebih dari cukup sampai Idul Fitri," tuturnya.
3. Pemerintah benahi rantai pasok untuk menjaga harga

Terkait harga cabai dan bawang, Amran menyebut produksi bawang merah sudah swasembada dan bahkan diekspor sekitar 1.000 ton pada 2025. Da menilai persoalan harga lebih banyak dipengaruhi rantai pasok.
"Bawang merah kan kita swasembada, bahkan kita ekspor kalau tidak salah, 2025 ekspor kurang lebih 1.000 ton. Jadi kita sudah swasembada. Ini persoalan rantai pasoknya kita benah," kata Amran.
Pemerintah juga memperkuat pengaturan harga melalui HET dan HPP. Amran menegaskan komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, daging, ayam, dan telur menjadi fokus utama pengendalian harga jelang Ramadan dan Idul Fitri.
















