Neraca Perdagangan RI per Agustus 2026 Surplus 7,25 Miliar Dolar AS

- Neraca perdagangan Indonesia Januari–Agustus 2026 surplus 7,25 miliar dolar AS, didukung surplus Agustus 3,55 miliar dolar AS dan surplus nonmigas 28,54 miliar dolar AS.
- Ekspor kumulatif mencapai 193,64 miliar dolar AS, naik 4,74 persen; industri pengolahan menjadi kontributor terbesar, sementara China, AS, dan India merupakan tujuan utama nonmigas.
- Impor mencapai 186,39 miliar dolar AS, tumbuh 19,84 persen, terutama bahan baku; China menjadi asal impor nonmigas terbesar, sedangkan migas mencatat defisit 21,29 miliar dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS. Surplus tersebut turut ditopang kinerja perdagangan pada Agustus 2026 yang mencapai 3,55 miliar dolar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, surplus kumulatif tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 28,54 miliar dolar AS. Sementara itu, perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit 21,29 miliar dolar AS.
"Dari sisi ekspor, nilai ekspor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dolar AS, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang naik 5,48 persen menjadi 185,63 miliar dolar AS," ungkap Ateng dalam Konferensi Pers BPS, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan sektor, industri pengolahan menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai 159,55 miliar dolar AS, tumbuh 7,87 persen secara tahunan.
Adapun tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang periode tersebut adalah China dengan nilai 47,44 miliar dolar AS atau 25,55 persen, Amerika Serikat 22,41 miliar dolar AS atau 12,07 persen, dan India 12,77 miliar dolar AS atau 6,88 persen.
Di sisi lain, nilai impor Januari-Agustus 2026 mencapai 186,39 miliar dolar AS, tumbuh 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor terjadi baik pada komoditas nonmigas maupun migas. Impor nonmigas naik 16,83 persen menjadi 157,09 miliar dolar AS, sedangkan impor migas tumbuh 39,03 persen menjadi 29,30 miliar dolar AS.
Berdasarkan penggunaan, impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai 133,38 miliar dolar AS atau tumbuh 20,67 persen. Selanjutnya, impor barang modal mencapai 36,75 miliar dolar AS, naik 18,82 persen, dan impor barang konsumsi sebesar 16,27 miliar dolar AS atau tumbuh 15,48 persen.
Berdasarkan catatan BPS, China menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai 66,64 miliar dolar AS atau 42,42 persen. Berikutnya, Jepang sebesar 8,88 miliar dolar AS atau 5,65 persen dan Australia 7,31 miliar dolar AS atau 4,65 persen.
Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas Indonesia terutama ditopang sejumlah komoditas utama. Lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang surplus 24,91 miliar dolar AS, diikuti bahan bakar mineral 18,84 miliar dolar AS, besi dan baja 12,10 miliar dolar AS, nikel dan barang daripadanya 8,38 miliar dolar AS, serta alas kaki 4,33 miliar dolar AS.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















