Panas Geopolitik dan Politik AS Tekan Rupiah ke Rp17.917

Rupiah ditutup melemah ke Rp17.917 per dolar AS setelah turun 35 poin atau 0,20 persen.
Pergerakan rupiah dipengaruhi perhatian pasar terhadap konflik Timur Tengah, politik AS, dan agenda ekonomi Amerika Serikat.
Rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif pada Selasa (6/10/2026), dengan rentang mingguan Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026). Rupiah parkir di level Rp17.917 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 75 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
1. Konflik Yaman-Saudi dan politik AS bayangi pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar mencermati memanasnya konflik di Timur Tengah dan situasi politik AS. Di Timur Tengah, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi berencana melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi.
Sebelumnya, Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais menggunakan rudal dan drone sebagai balasan atas 50 serangan udara dan rudal pimpinan Saudi. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap gangguan produksi minyak dunia.
"Mereka mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat dan merupakan tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir," kata Ibrahim.
Sementara itu, politik AS juga memanas setelah Presiden Donald Trump menggelar rapat umum di Ohio untuk mengkritik Partai Demokrat. Trump juga menjanjikan bantuan keuangan jika Partai Republik menang dalam pemilihan paruh waktu serta mengisyaratkan enggan bekerja sama dengan negara bagian yang dimenangkan Demokrat.
2. Data ekonomi AS jadi perhatian pasar
Selain perkembangan geopolitik dan politik AS, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi penting dari AS yang akan dirilis pekan ini.
Salah satunya adalah ISM Services PMI, yang menunjukkan kondisi aktivitas bisnis di sektor jasa AS. Pasar juga menunggu data mingguan klaim tunjangan pengangguran untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja di negara tersebut.
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Dokumen tersebut berisi pembahasan para pejabat bank sentral AS atau The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga.
Data sentimen konsumen AS yang dirilis University of Michigan juga menjadi salah satu agenda yang diperhatikan pasar.
"Pekan ini, agenda ekonomi AS akan mencakup data ISM Services PMI, Data ketenagakerjaan mingguan, rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan," ujar dia.
3. Rupiah diperkirakan masih melemah besok
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS dan berpotensi kembali melemah.
Untuk sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















