Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran membuat pelaku pasar kembali khawatir terhadap pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran tersebut meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang kilang minyak di Riyadh pada awal pekan ini. Padahal, pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sempat meningkat pada September. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
"Namun, ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz jalur yang sebelum perang mengangkut volume setara dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar global telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan," kata Ibrahim.
Menurut dia, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz juga meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk berupaya meningkatkan ekspornya. Pada Rabu, United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di perairan sekitar 51 mil laut sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa.