Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panasnya Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah ke Rp17.915
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS setelah melemah 28 poin pada perdagangan Kamis.

  • Ketegangan Timur Tengah dan kekhawatiran pasokan minyak menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah.

  • Pasar juga menanti arah suku bunga The Fed serta data klaim awal tunjangan pengangguran AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
September

Pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sempat meningkat. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga sempat lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

awal pekan ini

Kelompok Houthi dilaporkan menyerang kilang minyak di Riyadh. Kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia kemudian meningkat.

Rabu

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di perairan sekitar 51 mil laut sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar.

Kamis (8/10/2026)

Rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS setelah melemah 28 poin atau 0,16 persen.

bulan Oktober

Ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz disebut meningkat seiring konflik yang memasuki bulan kedelapan.

27-28 Oktober

The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga.

Desember

Peluang kenaikan suku bunga kembali masih terbuka karena kekhawatiran inflasi jika harga energi dunia tetap tinggi.

Jumat (9/10/2026)

Rupiah diperkirakan bergerak naik-turun pada kisaran Rp17.910-Rp17.950 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai tukar rupiah melemah dan ditutup di level Rp17.915 per dolar AS.
  • Who?
    Rupiah, dolar AS, pelaku pasar, Ibrahim Assuaibi, dan The Fed menjadi bagian dari perkembangan perdagangan.
  • Where?
    Perdagangan rupiah berlangsung di pasar valuta asing, sementara ketegangan yang menjadi perhatian berada di kawasan Timur Tengah.
  • When?
    Pelemahan terjadi pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).
  • Why?
    Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kekhawatiran pasokan minyak, serta perhatian terhadap arah suku bunga The Fed memengaruhi pasar.
  • How?
    Rupiah sempat menguat saat pembukaan di Rp17.879, lalu berbalik melemah dan bergerak pada kisaran Rp17.863-Rp17.920 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah melemah saat ditukar dengan dolar AS setelah sempat menguat pagi hari. Ibrahim Assuaibi menyebut ketegangan di Timur Tengah dan arah suku bunga The Fed membuat pasar khawatir. Rupiah ditutup di Rp17.915 per dolar AS. Pada Jumat, rupiah diperkirakan masih bergerak naik-turun dan bisa melemah lagi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan rupiah disertai informasi mengenai faktor-faktor yang menjadi perhatian pasar, mulai dari ketegangan Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga The Fed. Proyeksi kisaran perdagangan dan data ekonomi yang dinantikan juga memberi gambaran mengenai perkembangan yang sedang dipantau pelaku pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026). Rupiah sebenarnya sempat menguat saat perdagangan dibuka. Namun, penguatan tidak bertahan hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS, melemah 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.887 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.879 per dolar AS. Namun, rupiah kemudian berbalik melemah dan bergerak di kisaran Rp17.863-Rp17.920 per dolar AS sepanjang perdagangan.

1. Konflik Timur Tengah jadi perhatian pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran membuat pelaku pasar kembali khawatir terhadap pasokan minyak dunia.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang kilang minyak di Riyadh pada awal pekan ini. Padahal, pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sempat meningkat pada September. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

"Namun, ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz jalur yang sebelum perang mengangkut volume setara dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar global telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan," kata Ibrahim.

Menurut dia, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz juga meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk berupaya meningkatkan ekspornya. Pada Rabu, United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di perairan sekitar 51 mil laut sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

2. Pasar menunggu arah suku bunga AS

Selain konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim mengatakan pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang. Perkiraan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen pada September lalu.

Namun, peluang kenaikan suku bunga kembali pada Desember masih terbuka. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran terhadap inflasi yang bisa kembali meningkat jika harga energi dunia tetap tinggi.

"Hari ini fokus pasar akan tertuju pada data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran yang kan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB," tutur Ibrahim.

Data tenaga kerja menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS dan membantu pasar memperkirakan langkah The Fed selanjutnya.

3. Rupiah diprediksi bergerak melemah pada Jumat

Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak naik-turun pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.910-Rp17.950 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.

Sementara untuk sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article