Kenapa Harga Makanan di Aplikasi Pesan Antar Bisa Lebih Mahal?

- Harga menu di aplikasi pesan antar dapat lebih tinggi karena restoran menanggung biaya platform, sehingga harga online disesuaikan agar margin keuntungan tetap realistis.
- Pesanan antar memerlukan kemasan seperti wadah, tutup, kantong, dan alat makan; akumulasi biaya ini dapat dimasukkan ke harga jual aplikasi.
- Harga online juga dipengaruhi promo serta biaya operasional. Restoran perlu menyeimbangkan biaya, keuntungan, dan daya beli pelanggan pada tiap kanal penjualan.
Pernah membandingkan harga makanan di restoran dengan harga menu yang sama di aplikasi pesan antar lalu menemukan perbedaan? Kondisi tersebut cukup umum terjadi, terutama ketika restoran menggunakan platform pihak ketiga untuk menerima pesanan online. Harga yang lebih tinggi di aplikasi tidak selalu berarti restoran menaikkan harga secara sembarangan.
Ada berbagai biaya yang harus diperhitungkan ketika sebuah restoran menerima pesanan melalui aplikasi. Selain bahan baku dan operasional dapur, restoran juga dapat menghadapi biaya platform, program promosi, kemasan, serta kebutuhan tambahan untuk melayani pesanan online. Lantas, mengapa harga makanan di aplikasi pesan antar bisa berbeda dari harga di restoran?
Table of Content
1. Ada biaya layanan dari platform

ilustrasi beli makanan online (pexels.com/Eric McLean) Restoran yang menggunakan aplikasi pesan antar biasanya perlu memperhitungkan biaya yang berkaitan dengan layanan platform. Besarannya dapat berbeda berdasarkan platform, jenis kerja sama, program yang digunakan, serta ketentuan yang berlaku. Biaya tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari perhitungan bisnis restoran.
Jika restoran menjual makanan dengan harga yang sama seperti di toko fisik tanpa menghitung biaya tambahan, margin keuntungan dari pesanan online bisa menjadi lebih kecil. Karena itu, sebagian restoran menyesuaikan harga menu khusus untuk kanal pesan antar. Penyesuaian tersebut dilakukan agar keuntungan dari setiap transaksi tetap dapat dihitung secara realistis.
2. Biaya kemasan ikut bertambah

ilustrasi online shopping (pexels.com/MART PRODUCTION) Pesanan untuk makan di tempat dan pesanan untuk diantar membutuhkan perlakuan yang berbeda. Makanan yang dikirim membutuhkan wadah, tutup, kantong, alat makan, serta perlengkapan lain agar produk tetap aman selama perjalanan. Semua kebutuhan tersebut menjadi biaya tambahan bagi restoran.
Harga kemasan memang terlihat kecil jika dihitung untuk satu pesanan. Namun, ketika jumlah transaksi online mencapai ratusan atau ribuan pesanan, biaya tersebut dapat menjadi bagian yang cukup penting dalam struktur pengeluaran. Restoran kemudian dapat memasukkan biaya tersebut ke dalam perhitungan harga jual di aplikasi.
3. Restoran perlu menjaga margin keuntungan

ilustrasi online shop (pexels.com/Marcial Comeron) Harga jual makanan tidak hanya ditentukan oleh harga bahan baku. Restoran juga harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, listrik, gas, peralatan, pajak, hingga biaya operasional lainnya. Ketika ada kanal penjualan tambahan dengan struktur biaya berbeda, perhitungan margin juga perlu disesuaikan.
Misalnya, sebuah menu memiliki harga Rp25 ribu ketika dibeli langsung di restoran. Jika ada biaya tambahan yang muncul dari penjualan melalui aplikasi, restoran mungkin menetapkan harga online yang berbeda agar margin tidak terlalu tertekan. Dengan cara tersebut, restoran tetap bisa mendapatkan keuntungan meskipun struktur biaya pesanan online tidak sama dengan transaksi langsung.
4. Promo tidak selalu sepenuhnya ditanggung restoran

ilustrasi membeli makanan (pexels.com/Jonathan Cooper) Harga yang terlihat pelanggan di aplikasi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai program promo. Diskon tertentu bisa berasal dari restoran, platform, atau kombinasi keduanya tergantung mekanisme program yang digunakan. Karena itu, harga yang dibayar pelanggan belum tentu menggambarkan seluruh nilai transaksi yang diterima restoran.
Restoran perlu menghitung dampak setiap promo terhadap keuntungan. Promo yang menghasilkan banyak pesanan tetap perlu dievaluasi jika potongan harga dan biaya lainnya terlalu besar. Tujuannya bukan hanya meningkatkan jumlah transaksi, tetapi memastikan setiap pesanan tetap memberikan kontribusi yang masuk akal terhadap bisnis.
5. Harga online dan offline punya struktur biaya berbeda

ilustrasi bisnis makanan (pexels.com/Kampus Production) Restoran pada dasarnya dapat memiliki beberapa kanal penjualan dengan struktur biaya masing-masing. Penjualan langsung mungkin tidak memiliki biaya platform, sedangkan penjualan melalui aplikasi membutuhkan biaya tambahan tetapi memberikan akses kepada pelanggan yang lebih luas. Perbedaan struktur tersebut membuat harga pada kedua kanal tidak selalu sama.
Bagi restoran, keputusan menentukan harga online perlu mempertimbangkan biaya dan daya beli pelanggan. Jika harga terlalu tinggi, pelanggan bisa beralih ke restoran lain atau memilih datang langsung. Sebaliknya, jika harga terlalu rendah tanpa memperhitungkan biaya, restoran berisiko mendapatkan banyak transaksi tetapi margin keuntungannya terlalu tipis.
Harga makanan di aplikasi pesan antar bisa lebih mahal karena restoran menghadapi struktur biaya yang berbeda dibandingkan penjualan langsung. Biaya platform, kemasan, promo, tenaga kerja, dan operasional perlu diperhitungkan sebelum menentukan harga jual. Karena itu, perbedaan harga tidak selalu berarti harga makanan di restoran dinaikkan tanpa alasan.
Dari sisi bisnis, yang terpenting bukan hanya berapa banyak pesanan yang masuk melalui aplikasi. Restoran juga perlu mengetahui berapa biaya yang keluar dari setiap transaksi dan berapa keuntungan yang tersisa setelah seluruh biaya diperhitungkan. Dengan perhitungan tersebut, kanal pesan antar dapat menjadi sumber penjualan yang tetap sehat bagi bisnis, bukan sekadar menghasilkan omzet besar.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























