Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PT Wanatiara Persada
PT Wanatiara Persada (wanatiara-persada.com)

Intinya sih...

  • Pemilik PT Wanatiara Persada adalah perusahaan patungan lintas negara, dengan 60% saham dimiliki oleh Jinchuan Group Co., Ltd dari China.

  • Jinchuan Group merupakan pilar utama bisnis PT Wanatiara Persada, dengan latar belakang bisnis yang kuat di sektor pertambangan dan metalurgi.

  • Smelter PT Wanatiara Persada di Pulau Obi pernah menuai kontroversi karena penggunaan bendera China dan kasus dugaan suap pajak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

PT Wanatiara Persada pernah menjadi perhatian publik setelah terseret dalam kasus dugaan suap terhadap sejumlah pegawai pajak di Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara. Kasus ini mencuat dari temuan kekurangan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk masa pajak 2023 dengan nilai mencapai puluhan miliar rupiah.

Sebagai perusahaan pengolahan nikel yang beroperasi di Maluku Utara, PT Wanatiara Persada bukan nama asing di industri pertambangan. Perusahaan ini memiliki peran penting dalam rantai pasok nikel, terutama untuk kebutuhan industri baterai dan logam. Tak heran jika kepemilikan dan aktivitas bisnisnya kini ikut disorot.

Siapa pemilik PT Wanatiara Persada dan bagaimana latar belakang perusahaan ini? Berikut ini ulasan mengenai pemilik PT Wanatiara Persada, jaringan bisnisnya, serta rekam jejak operasional perusahaan di Indonesia.

1. Pemilik PT Wanatiara Persada merupakan perusahaan patungan lintas negara

PT Wanatiara Persada (wanatiara-persada.com)

Pemilik PT Wanatiara Persada bukan individu perseorangan, melainkan entitas bisnis berbentuk perusahaan patungan. Berdasarkan informasi resmi perusahaan, sebanyak 60 persen saham PT Wanatiara Persada dimiliki oleh Jinchuan Group Co., Ltd, perusahaan tambang besar asal China. Sisa sahamnya dipegang oleh mitra lokal dari Indonesia.

Struktur kepemilikan ini menempatkan Jinchuan Group sebagai pengendali utama kebijakan dan arah bisnis PT Wanatiara Persada. Dengan porsi saham mayoritas, perusahaan asal China tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan strategis. Model kerja sama semacam ini cukup umum dalam industri pertambangan Indonesia, khususnya untuk proyek berskala besar.

Jinchuan Group Co., Ltd dipimpin oleh Ruan Ying yang menjabat sebagai ketua perusahaan. Sosok ini dikenal sebagai figur penting di balik ekspansi global Jinchuan Group, termasuk investasi di sektor nikel Indonesia. Melalui kepemilikan saham tersebut, Ruan Ying secara tidak langsung menjadi salah satu tokoh sentral dalam kepemilikan PT Wanatiara Persada.

2. Jinchuan Group menjadi pilar utama bisnis PT Wanatiara Persada

PT Wanatiara Persada (wanatiara-persada.com)

Sebagai pemilik saham terbesar PT Wanatiara Persada, Jinchuan Group memiliki latar belakang bisnis yang kuat di sektor pertambangan dan metalurgi. Perusahaan ini berdiri sejak 1959 dan berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi Gansu, China. Status tersebut membuat Jinchuan Group memiliki dukungan kuat dalam pengembangan industri strategis.

Jinchuan Group menjalankan tujuh lini bisnis utama, antara lain nikel dan kobalt, tembaga dan logam mulia, material nonferrous, bahan baterai, bahan kimia, energi baru, serta jasa produksi. Produk-produk tersebut banyak digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari konstruksi hingga kendaraan listrik. Kebutuhan global terhadap nikel pun membuat peran Jinchuan Group semakin signifikan.

Pada tahun 2025, Jinchuan Group tercatat menempati peringkat ke-235 dalam daftar Fortune Global 500 dan berada di posisi ke-59 perusahaan terbesar di China. Perusahaan ini beroperasi di lebih dari 20 provinsi dan kota di China, serta memiliki jaringan bisnis di lebih dari 30 negara. Indonesia menjadi salah satu basis penting Jinchuan Group melalui pengolahan nikel oleh PT Wanatiara Persada.

3. Smelter PT Wanatiara Persada di Pulau Obi pernah menuai kontroversi

PT Wanatiara Persada (wanatiara-persada.com)

Operasional utama PT Wanatiara Persada di Indonesia terpusat pada smelter nikel yang berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Smelter ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2019 dan menggunakan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Teknologi tersebut diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan dalam pengolahan nikel saprolit.

Fasilitas smelter ini dilengkapi empat tungku dengan daya masing-masing 33 MVA dan didukung pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas total 150 MW. Selain itu, PT Wanatiara Persada juga membangun berbagai infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan berkapasitas 10.000 DWT, jaringan jalan, pipa air bersih, laboratorium, hingga fasilitas mes karyawan. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menunjang operasional tambang secara terpadu.

Meski demikian, perjalanan bisnis PT Wanatiara Persada tidak lepas dari sorotan publik. Pada saat peletakan batu pertama proyek smelter pada 25 November 2016, perusahaan sempat mengibarkan bendera China di area proyek. Tindakan ini menuai kritik karena dinilai tidak sesuai dengan peraturan penggunaan bendera kebangsaan asing di Indonesia, sehingga perusahaan akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan menurunkan bendera tersebut.

Kasus dugaan suap pajak yang menjerat PT Wanatiara Persada membuat publik semakin mencermati latar belakang pemilik dan aktivitas bisnis perusahaan ini. Dengan kepemilikan mayoritas oleh Jinchuan Group Co., Ltd, PT Wanatiara Persada menjadi gambaran kuatnya peran investor asing dalam industri nikel nasional. Ke depan, transparansi dan kepatuhan hukum menjadi aspek penting agar kontribusi sektor pertambangan tetap sejalan dengan kepentingan publik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team