Purbaya Bakal Sidak Perusahaan China yang Gelapkan Pajak PPN

- Purbaya siapkan sidak ke perusahaan China yang gelapkan pajak PPN
- Perusahaan pengemplang pajak berlokasi di Jakarta, ada kemungkinan pihak lain terlibat
- 38 perusahaan baja asal China dan 2 perusahaan Indonesia tidak memenuhi kewajiban pajak
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa akan melakukan sidak ke perusahaan-perusahaan China yang tidak memenuhi kewajiban pajaknya, khususnya terkait PajakPertambahan Nilai (PPN).
Dia mengatakan, sidak itu akan dilakukan dalam waktu dekat, di pekan ini.
“Harusnya minggu ini. Nanti saya undang sehari-dua hari deh,” kata Purbaya di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
1. Sidak sedang disiapkan

Purbaya mengatakan, dirinya sedang persiapan untuk melakukan sidak ke perusahaan-perusahaan pengemplang pajak itu.
“Harusnya minggu ini, kita sedang siapkan,” ujar Purbaya.
2. Perusahaan China yang gelapkan pajak berlokasi di Jakarta

Purbaya mengatakan, perusahaan-perusahaan pengemplang pajak itu berlokasi di Jakarta.
“Jakarta kayaknya,” ujar Purbaya.
3. Ada kemungkinan pihak lain terlibat

Sebelumnya, Purbaya mengatakan ada 38 perusahaan baja asal China dan 2 perusahaan Indonesia yang tidak memenuhi kewajiban pajak.
Purbaya menambahkan, dari puluhan perusahaan yang terdeteksi, dua di antaranya yang terbilang besar akan segera dilakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan adanya pelanggaran yang terjadi.
"Ada 40 perusahaan baja yang terdeteksi, dua yang terbesar akan kita sidak dalam waktu dekat," kata Purbaya usai program Semangat Awal Tahun by IDN Times, Rabu (14/1/2026).
Meski demikian, Purbaya tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam praktik penghindaran pajak tersebut, termasuk dari dalam negeri.
Dia memastikan akan terus mendalami keterlibatan oknum lain, dalam praktik penghindaran pajak tersebut.
"Ada yang dari China, ada juga yang dari Indonesia. Itu yang masih saya selidiki. Kalau perusahaan besar, biasanya sudah bisa ketahuan, artinya mungkin ada orang Indonesia yang terlibat. Nanti kita lihat perkembangannya," ujar Purbaya.















