Promosi besar-besaran sering dianggap sebagai jalan cepat untuk mendongkrak penjualan karena semakin luas jangkauan kampanye, semakin banyak pula konsumen yang mengenal produk. Perusahaan bahkan rela mengalokasikan anggaran besar untuk iklan, potongan harga, kolaborasi, sampai berbagai aktivitas pemasaran demi menciptakan perhatian publik. Namun, tingginya eksposur ternyata gak otomatis membuat konsumen tertarik mengeluarkan uang untuk membeli produk.
Keputusan pembelian terbentuk dari banyak faktor yang jauh lebih kompleks daripada sekadar seberapa sering sebuah produk muncul di hadapan konsumen. Kualitas produk, relevansi kebutuhan, harga, pengalaman pelanggan, hingga tingkat kepercayaan terhadap merek dapat menentukan apakah perhatian akhirnya berubah menjadi transaksi. Jadi, sebelum menggelontorkan anggaran pemasaran lebih besar, yuk pahami beberapa penyebab promosi besar-besaran gak selalu berhasil menaikkan penjualan.
