PT Pertamina (Persero) terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik (Dok/Istimewa).
Ia bercerita, salah satu UMKM Roona Batik di Bantul, Yogyakarta, yang dikelola Muhammad Syauki. Usaha fesyen berbasis batik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.
Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas yang turut berperan dalam proses produksi.
Hal serupa dilakukan Batik Jinggar di Yogyakarta yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih. Selain mengembangkan produk fesyen berbasis batik, UMKM tersebut melakukan inovasi melalui pengembangan motif dan desain.
Batik Jinggar mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mempekerjakan delapan orang, termasuk dua penyandang disabilitas.
Sementara itu, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan batik tulis dengan mengangkat kekayaan budaya daerah. Usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Pertamina juga menjalankan program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah, untuk mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Kelompok tersebut kini telah memiliki workshop, peralatan, dan modal usaha sendiri. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa batik dan oleh-oleh khas Boyolali, tetapi juga dikembangkan menjadi paket edukasi membatik dan berkolaborasi dengan desainer.