Jakarta, IDN Times - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan bahwa konsistensi komunikasi pemerintah terkait kebijakan ekonomi kembali menjadi sorotan publik, setelah pernyataan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menanggapi pelemahan rupiah yang telah menembus Rp17.600 per dolar AS. Dalam pernyataannya Sabtu (16/5/2026), Prabowo menekankan bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan dolar AS dan memastikan harga pangan serta energi di dalam negeri masih aman.
Secara teknis, anggapan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS, dinilai Yusuf, kurang tepat. Meski transaksi sehari-hari dilakukan menggunakan rupiah, struktur ekonomi domestik masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor.
Yusuf mencontohkan sejumlah komoditas penting seperti pupuk untuk petani, gandum untuk industri makanan, bahan baku obat-obatan, bahan bakar minyak (BBM), hingga pakan ternak yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor akan meningkat dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat masyarakat.
“Begitu rupiah melemah, cost naik dan pasti ditransmisikan ke harga konsumen, classic imported inflation. Justru desa yang paling rentan karena daya tawarnya paling terbatas,” katanya kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).
