Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Terpuruk, CORE Ungkap Ancaman Shrinkflation di Produk Konsumsi

Rupiah Terpuruk, CORE Ungkap Ancaman Shrinkflation di Produk Konsumsi
Ilustrasi seseorang yang mempertimbangkan pembelian di minimarket. (Ilustrasi dibuat dengan AI/Google Gemini)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.613 per dolar AS membuat biaya produksi naik karena ketergantungan impor tinggi, mendorong fenomena shrinkflation di berbagai produk konsumsi.
  • Dampak pelemahan kurs terhadap inflasi berlangsung bertahap 6–12 bulan dan berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.
  • Efek psikologis pelemahan rupiah membuat masyarakat menunda belanja dan mengurangi konsumsi nonprimer, sehingga sektor ritel dan manufaktur terancam melambat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai menilai pelemahan rupiah tidak hanya menekan sektor keuangan, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat. Terlebih rupiah sempat menembus level terendah dalam sejarah di level Rp17.613 per dolar AS kemarin.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, terutama sektor tekstil, makanan dan minuman, kimia, serta elektronik. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat karena harga bahan baku impor menjadi lebih mahal.

Namun, di sisi lain, pelaku usaha juga tidak leluasa menaikkan harga jual lantaran daya beli masyarakat sedang melemah. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan mencari jalan tengah untuk menjaga penjualan.

"Ketika kurs melemah, biaya produksi naik, tetapi mereka juga tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena daya beli masyarakat sedang lemah. Akibatnya banyak perusahaan memilih jalan tengah seperti mengecilkan ukuran produk atau menurunkan spesifikasi kualitas. Fenomena shrinkflation ini sebenarnya sudah mulai terlihat di banyak produk konsumsi," ungkap Yusuf kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).

1. Dampak lesunya kurs ke inflasi berlangsung bertahap 6-12 bulan

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Ia menjelaskan, dampak pelemahan kurs terhadap inflasi biasanya tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung bertahap dalam periode enam hingga 12 bulan. Sementara itu, kenaikan upah masyarakat cenderung bergerak lebih lambat dibandingkan laju kenaikan harga barang.

Akibatnya, daya beli riil masyarakat, terutama kelompok menengah bawah, perlahan tergerus. Yusuf menilai kelompok berpendapatan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena sebagian besar pengeluaran mereka dialokasikan untuk kebutuhan pokok seperti makanan dan energi.

“Secara umum arahnya jelas, inflasi akibat kurs akan menekan daya beli masyarakat apabila tidak diimbangi peningkatan pendapatan,” katanya.

2. Dampak psikologis rupiah, masyarakat mulai tunda belanja

Ilustrasi belanja di minimarket
Ilustrasi belanja di minimarket (pexels.com/Kenneth Surillo)

Selain dampak ekonomi langsung, Yusuf juga menyoroti efek psikologis dari pelemahan rupiah terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Menurutnya, masyarakat cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika nilai tukar terus melemah.

“Orang mulai menunda belanja, menahan liburan, mengurangi konsumsi nonprimer, dan lebih hati-hati mengambil cicilan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila kondisi tersebut terjadi secara bersamaan dalam jangka waktu lama, maka sektor ritel dan manufaktur berpotensi ikut melambat akibat menurunnya permintaan domestik.

“Jadi pelemahan kurs bukan hanya soal dolar mahal, tetapi juga soal turunnya rasa percaya diri ekonomi masyarakat,” kata Yusuf.

3. Daya beli bisa tergerus

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat.

“Sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang di pasaran. Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Menurutnya dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat terasa dalam beberapa bulan berikutnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More