LPG Plant Cilamaya ENP Senilai 36,93 Juta Dolar AS Resmi Beroperasi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan LPG Plant Cilamaya yang dikelola KSO PT ENP dan PT EAJ di Karawang.
Fasilitas senilai 36,93 juta dolar AS ini berkapasitas produksi 52.800 ton LPG per tahun.
Pasokan gas PHE ONWJ berkomitmen selama sembilan tahun untuk mendukung keberlanjutan operasi fasilitas.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah meresmikan LPG Plant Cilamaya di Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (17/10/2026).
Fasilitas tersebut dikelola melalui Kerja Sama Operasi (KSO) PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) dan PT Euro Asiatic Jaya (EAJ). Peresmian tersebut menjadi bagian dari pengembangan industri hilir gas bumi untuk mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu terutama dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pemanfaatan gas bumi domestik. President Director PT ENP sekaligus Leader KSO PT ENP–PT EAJ Sardjono menyampaikan apresiasi kepada pemerintah.
"Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral beserta seluruh jajarannya, serta SKK Migas," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
1. LPG Plant Cilamaya produksi 52.800 ton LPG per tahun

Ilustrasi LPG Plant. (YouTube/Kementerian ESDM) LPG Plant Cilamaya dibangun dalam waktu 13 bulan dengan investasi 36,93 juta dolar Amerika Serikat (AS). Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan gas 40 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Kapasitas produksinya mencapai 160 ton LPG per hari atau setara 52.800 ton per tahun. Selain itu, fasilitas ini menghasilkan kondensat sebanyak 320 barel per hari atau 105.600 barel per tahun.
Pasokan gas berasal dari Lapangan PHE Offshore North West Java (PHE ONWJ) berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) selama sembilan tahun, dengan komitmen pasokan 37 MMSCFD. Adapun gas sisa pengolahan atau lean gas dikembalikan kepada PHE ONWJ untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Pembangunan fasilitas dikerjakan PT Pacific Process Engineering (PPE) sebagai kontraktor engineering, procurement, construction, and installation (EPCI), dengan dukungan teknologi proses yang dikembangkan di dalam negeri.
Produksi LPG dari fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor LPG sekitar 52.800 ton per tahun. Pembangunannya juga melibatkan sekitar 200 tenaga kerja serta mendorong pertumbuhan industri pendukung di Jawa Barat dan sekitarnya.
"Bersama seluruh pemangku kepentingan, PT ENP akan terus mengambil peran strategis dalam mendukung agenda hilirisasi, ketahanan energi, dan pembangunan nasional yang berkelanjutan," ujar dia.
2. Pasokan gas dari PHE ONWJ berlangsung sembilan tahun

Ilustrasi LPG Plant. (YouTube/Kementerian ESDM) Komitmen pasokan gas sebesar 37 MMSCFD dari Lapangan PHE ONWJ selama sembilan tahun menjadi dasar bagi PT ENP untuk menjaga keberlanjutan operasi fasilitas tersebut.
Sardjono menyampaikan pengembangan LPG Plant Cilamaya menunjukkan peran kerja sama pemerintah, SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama, dan pelaku usaha nasional dalam mempercepat hilirisasi gas bumi.
PT ENP juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, kontraktor, mitra usaha, lembaga pembiayaan, dan seluruh pihak yang mendukung pembangunan fasilitas hingga siap beroperasi secara komersial.
Perusahaan menyatakan akan terus berinvestasi di sektor hilir minyak dan gas bumi untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia dan mendukung kemandirian energi nasional.
“Kepercayaan tersebut merupakan amanah yang akan kami jawab melalui pengoperasian LPG Plant Cilamaya secara aman, andal, efisien, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara," tutur Sardjono.
3. PT ENP juga kelola LPG Plant berkapasitas 100 MMSCFD

Ilustrasi LPG Plant. (YouTube/Kementerian ESDM) PT ENP memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam pengembangan dan pengoperasian fasilitas pengolahan LPG di Indonesia. Perusahaan juga mengoperasikan LPG Plant Gresik dengan kapasitas pengolahan gas 100 MMSCFD.
Fasilitas tersebut mengolah gas bumi dari Lapangan PHE West Madura Offshore (WMO) dan Lapangan Poleng menjadi LPG dan kondensat.
Pengalaman operasional itu menjadi bekal perusahaan dalam menjalankan LPG Plant Cilamaya dengan mengacu pada standar keselamatan, keandalan operasi, dan praktik terbaik industri migas.
Sardjono menilai keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga kemampuan mengolahnya menjadi nilai tambah bagi masyarakat.
"Kami akan berkomitmen untuk terus menghadirkan investasi strategis di sektor hilir migas guna memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, serta mendukung terwujudnya Indonesia mandiri dan maju," kata dia.



















