Subsidi LPG Nyaris Rp100 Triliun Imbas Harga Minyak Dunia Naik

Subsidi LPG meningkat hingga hampir Rp100 triliun saat ICP naik ke kisaran 90-100 dolar AS per barel.
Ketidakpastian energi global dipengaruhi konflik geopolitik dalam hampir tiga tahun terakhir.
Konsumsi LPG domestik mencapai 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,8 juta ton.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut subsidi liquefied petroleum gas (LPG) meningkat hingga hampir Rp100 triliun. Itu imbas harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) naik ke kisaran 90-100 dolar AS per barel.
Bahlil menjelaskan, subsidi LPG untuk konsumsi masyarakat mencapai Rp87 triliun ketika ICP berada di kisaran 72 dolar AS per barel. Namun, ketika harga minyak naik ke kisaran 90-100 dolar AS per barel, kebutuhan subsidi meningkat.
"Begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100, itu subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun. Ini devisa kita banyak sekali yang keluar dan kemudian mampu kita subsidi kepada rakyat yang begitu besar," katanya dikutip dari YouTube Kementerian ESDM, Jumat (16/10/2026).
1. Geopolitik global picu ketidakpastian energi

Ilustrasi politik kekuatan militer dalam percaturan geopolitik global, ketika rivalitas negara-negara besar membentuk dinamika dunia multipolar. Gambar dibuat menggunakan Open AI karena keterbatasan stok yang ada. Bahlil mengatakan, konflik geopolitik dalam hampir tiga tahun terakhir telah menciptakan ketidakpastian di sektor energi global. Konflik tersebut meliputi perang Israel dan Palestina, konflik Israel dan Amerika Serikat dengan Iran, serta perang Rusia dan Ukraina. Konflik meluas hingga Arab Saudi.
"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ujar pria yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu.
2. Kebutuhan LPG masyarakat mencapai 8,5 juta ton per tahun

Ilustrasi tabung LPG 3kg. (Dok. Pertamina) Bahlil menyebut konsumsi LPG Indonesia mencapai 8,5 juta ton per tahun. Jika ditambah kebutuhan industri petrokimia di Cilegon, termasuk Lotte Chemical Indonesia dan Chandra Asri, total kebutuhan LPG diperkirakan mencapai 11-12 juta ton per tahun.
"Kapasitas produksi kita di dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun. Jadi kita impor itu kurang lebih sekitar 7 sampai 8 juta ton per tahun," tuturnya.
3. Bahlil dorong optimalisasi gas dalam negeri

Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater XXI, Senin (12/10/2026). (IDN Times/Trio Hamdani) Bahlil menyebut Indonesia memiliki potensi LNG yang besar. Semua kebutuhan LNG dalam negeri mampu dipenuhi dari produksi domestik, bahkan sebagian produksinya bisa diekspor.
Namun, gas yang menjadi bahan baku LNG didominasi komponen metana (C1) dan etana (C2), yang tidak cocok digunakan untuk memproduksi LPG.
"Untuk LNG kita tidak impor. LNG itu semuanya dipenuhi oleh produksi dalam negeri, bahkan kita ekspor 30 persen. Tetapi LNG itu bahan bakunya itu C1, C2 di mana C1, C2 ini tidak cocok dipakai untuk LPG," kata Bahlil.





















