Pelemahan rupiah pada hari ini lebih lanjut didorong oleh faktor dari luar negeri. Ibrahim mencatat dua sentimen utama dari sisi geopolitik. Pertama konflik Ukraina-Rusia. Serangan drone jarak jauh dari Ukraina terus menargetkan dan membakar sejumlah kilang minyak di Rusia.
"Kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan," paparnya.
Kemudian ketegangan di Timur Tengah belum reda. Meskipun Presiden AS Donald Trump berniat membebaskan Selat Hormuz, Iran dinilai telah bersiap untuk menghadapi perang panjang, sehingga ketegangan di kawasan tersebut tetap terasa masif.
"Nah, di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi," ujar Ibrahim.
Akibatnya, bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mengambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Mei jika harga minyak tetap berada di atas level 100 dolar AS per barel, yang pada akhirnya memicu penguatan dolar AS.