Rupiah Sentuh Rekor Terendah, Purbaya: Bukan Dipicu Ekonomi Domestik

- Nilai tukar rupiah sempat menyentuh rekor terendah Rp17.308 per dolar AS, namun Menteri Keuangan Purbaya menegaskan pelemahan ini bukan akibat kondisi ekonomi domestik.
- Purbaya menilai ekonomi Indonesia masih lebih kuat dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, meski pergerakan nilai tukar antarnegara berbeda.
- Ia menegaskan fondasi ekonomi nasional tetap solid dan menyebut pelemahan rupiah hanya bersifat sementara, terbukti hari ini rupiah kembali menguat ke Rp17.229 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa merespons pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah sepanjang masa kemarin, Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.308 per dolar Amerika Serikat (AS) di penutupan perdagangan kemarin.
Menurut Purbaya, pelemahan rupiah kemarin bukan didorong oleh pelemahan perekonomian domestik.
“Tapi untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan apa dipicu oleh pemburuknya ekonomi domestik,” kata Purbaya di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
1. Sebut Indonesia masih lebih baik dari negara tetangga

Menurut dia, dibandingkan negara-negara tetangga, kondisi perekonomian Indonesia masih kuat.
“Dibanding negara lain kita masih kuat,” ucap Purbaya.
Namun, dia menyoroti mata uang negara tetangga yang masih menguat. Menurut dia, apa faktor penyebabnya harus ditanyakan kepada bank sentral, yakni Bank Indonesia (BI).
“Bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat. Cuma gerakan nilai tukar beda kan., anda lihat Malaysia menguat, Thailand menguat terhadap dolar relatif ya dari awal tahun sampai sekarang. Tapi kan memang begini-begini. Coba Anda tanya ke bank sentral kenapa seperti itu. Mungkin saya bukan ahlinya di sini,” ujar Purbaya.
2. Sebut Indonesia punya fondasi ekonomi yang kuat

Purbaya mengatakan, Indonesia punya fondasi ekonomi yang kuat. Dia juga menepis prediksi soal ekonomi Indonesia akan menuju keterpurukan. Menurutnya, pendapat itu hanyalah ‘suara mengganggu’ alias noise.
“Karena kita akan semakin serius perbaikin kendala-kendala di perekonomian. Terus ini kan juga terjadikan noise yang seolah-olah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterburukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan 3 bulan waktu itu, kan berarti 2 bulan lagi, Juni, Juli, tapi keadaannya enggak seperti itu,” tutur Purbaya.
3. Rupiah bangkit hari ini

Hari ini, kurs rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, dibuka menguat 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.241 per dolar AS pagi tadi.
Kemudian, kurs rupiah ditutup menguat 57 poin atau 0,33 persen ke Rp17.229 per dolar AS sore ini.

















