Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Bangkit Tipis Lawan Dolar, Investor Nantikan Suku Bunga BI
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah menguat tipis ke level Rp17.124 per dolar AS, didorong sentimen positif dari turunnya harga minyak dan optimisme damai antara Amerika Serikat serta Iran.
  • Dolar AS melemah setelah data inflasi produsen di Amerika Serikat menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan, menekan kekuatan mata uang tersebut di pasar global.
  • Penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena sentimen domestik masih lemah, sementara investor menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur sore ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari ini uang rupiah naik sedikit lawan uang dolar. Katanya karena harga minyak turun dan ada kabar Amerika sama Iran mau damai. Dolar juga jadi lemah karena angka harga barang di pabrik sana turun. Sekarang orang-orang yang punya uang lagi nunggu Bank Indonesia ngomong soal bunga, biar tahu nanti mau naik atau tidak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penguatan tipis rupiah terhadap dolar AS menunjukkan adanya sinyal kepercayaan pasar yang mulai pulih di tengah ketidakpastian global. Dukungan dari turunnya harga minyak dunia dan optimisme atas potensi dialog damai AS-Iran menciptakan suasana pasar yang lebih tenang, sementara perhatian investor terhadap keputusan Bank Indonesia menandakan ekspektasi positif terhadap kebijakan moneter domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menunjukkan sedikit napas lega dengan menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (15/4/2026).

Berdasarkan pantauan data Bloomberg hingga pukul 09.11 WIB, rupiah mulai bergerak di zona hijau meskipun masih dibayangi sentimen global dan domestik. Rupiah bergerak ke level Rp17.124 per dolar AS, menguat 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

1. Harga minyak turun dan isu damai AS-Iran jadi angin segar

Pengamat pasar uang Lukman Leong menyebutkan rupiah memiliki potensi untuk terus menguat terhadap dolar AS yang saat ini masih dalam tren melemah. Salah satu pemicunya adalah turunnya kembali harga minyak mentah dunia yang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

Kondisi tersebut didukung oleh munculnya optimisme di kalangan investor akan harapan pihak Amerika Serikat dan Iran bakal segera kembali ke meja perundingan damai.

Hal itu memicu sentimen risk on, yaitu kondisi di mana investor kembali berani masuk ke aset-aset yang lebih berisiko seperti rupiah karena menganggap situasi keamanan global mulai mereda.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yg masih terus melemah dan harga minyak mentah dunia yang kembali turun di tengah sentimen risk on oleh optimisme akan harapan AS-Iran akan kembali melakukan perundingan damai," kata Lukman.

2. Dolar AS loyo akibat data inflasi produsen yang lemah

Keperkasaan dolar AS juga mulai goyah setelah rilis data inflasi produsen di Negeri Paman Sam yang ternyata lebih lemah dari perkiraan awal. Inflasi produsen sendiri adalah indikator yang mengukur kenaikan harga di tingkat pabrik atau produsen sebelum sampai ke tangan konsumen.

"Data inflasi produsen AS yg lebih lemah dari harapan juga menekan dolar AS," papar Lukman.

3. Penguatan rupiah terhadap dolar diproyeksikan terbatas

Meskipun ada sinyal positif, Lukman mengingatkan penguatan rupiah kali ini kemungkinan masih akan terbatas. Hal itu dikarenakan sentimen domestik yang dinilai masih belum cukup kuat, ditambah dengan sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati.

Saat ini, mata para investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan sore nanti. Keputusan BI terkait suku bunga acuan sangat dinantikan untuk melihat arah kebijakan moneter ke depan.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memprediksi mata uang Garuda akan bergerak fluktuatif pada rentang harga Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS.

Editorial Team