CEO OpenAI: AI Tidak Akan Gantikan Pekerja Manusia secara Massal

- Sam Altman menegaskan bahwa perkembangan AI tidak menyebabkan kehilangan pekerjaan secara massal dan dampaknya terhadap pekerja kantoran masih lebih kecil dari perkiraan awal.
- Altman menyebut interaksi manusia tetap penting karena AI belum mampu menggantikan sentuhan personal dalam komunikasi kerja sehari-hari.
- Ia menilai penerapan AI di perusahaan masih tahap awal tanpa standar baku, sehingga efisiensi dan keamanan penggunaannya perlu terus dikembangkan.
Jakarta, IDN Times - Chief Executive Officer (CEO) OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini tidak akan memicu hilangnya lapangan pekerjaan secara massal di tingkat global. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi Commonwealth Bank of Australia (CBA) di Sydney, pada Selasa (26/5/2026).
Altman menjelaskan, dampak AI terhadap pekerja kantoran sejauh ini belum sebesar perkiraan awalnya. Ia mengakui bahwa kekhawatirannya mengenai potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam waktu dekat akibat adopsi AI ternyata tidak terbukti.
1. Altman sebut risiko AI tetap perlu dibahas terbuka

Dalam dialog virtual dengan CEO CBA Matt Comyn, Altman menyebut OpenAI sudah tepat memprediksi arah perkembangan teknologi, namun sedikit meleset mengenai dampak sosial dan ekonominya. Ia sengaja menyuarakan kekhawatiran hilangnya pekerjaan pada awal kemunculan ChatGPT karena melihat adanya potensi masalah yang harus diantisipasi bersama.
"Waktu itu, saya melihat ini sebagai risiko yang nyata, jadi kita harus membicarakannya. Tentu saja, risiko tersebut masih ada kemungkinan untuk terjadi di masa depan," kata Sam Altman, dilansir Business Insider.
2. Interaksi antarmanusia belum bisa digantikan AI

Lebih lanjut, pengalaman pribadi menggunakan AI untuk membalas pesan kerja membuat Altman sadar akan batasan teknologi ini. Ia sempat mencoba menggunakan AI untuk membalas email dan pesan di aplikasi Slack, tetapi akhirnya memilih untuk kembali merespons pesan-pesan tersebut secara langsung karena merasa sentuhan personal tetap dibutuhkan.
"Kita sangat menghargai interaksi dengan orang lain. Hal ini menyita banyak waktu saya, dan saya tidak bisa membayangkan akan menyerahkan urusan interaksi ini kepada AI dalam waktu dekat," ujar Sam Altman.
3. Perusahaan masih di tahap awal penerapan AI

Altman juga menyoroti bahwa berbagai perusahaan saat ini masih dalam tahap awal penggunaan AI. Menurutnya, meskipun teknologi AI sudah berkembang menjadi sangat canggih, penerapannya untuk kegiatan operasional perusahaan belum sepenuhnya maksimal dan belum memiliki standar baku.
"Belum ada panduan pasti tentang cara menerapkan teknologi AI ini dengan cepat di seluruh bagian perusahaan, sekaligus memastikan para pegawai tetap produktif dan aman saat menggunakannya," tutur Sam Altman.



















