Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Berbalik Menguat ke Rp16.800 per Dolar AS
ilustrasi rupiah (IDN Times/Umi Kalsum)
  • Rupiah ditutup menguat ke level Rp16.800 per dolar AS, naik 29 poin atau sekitar 0,17 persen dibandingkan penutupan pekan lalu menurut data Bloomberg.
  • Mayoritas mata uang Asia ikut menguat, dengan won Korea mencatat penguatan tertinggi mencapai 8,06 persen diikuti peso Filipina dan dolar Taiwan.
  • Pengamat menilai potensi pelemahan rupiah masih ada akibat sikap hawkish The Fed, namun diperkirakan terbatas karena pasar menunggu perkembangan isu geopolitik global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan berbalik menguat pada perdagangan Rabu (25/2/2025).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp16.800 per dolar Amerika Serikat atau menguat 29 poin yang setara 0,17 persen dibandingkan penutupan pekan lalu.

1. Won Korea menguat paling tinggi

Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, rinciannya:

Bath Thailand menguat 0,02 persen

Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen

Rupee India menguat 0,03 persen

Yuan Chuna menguat 0,01 persen

Pesso Filipina menguat 0,25 persen

Won Korea menguat 8,06 persen

Dolar Taiwan menguat 0,13 persen

2. Alasan rupiah melemah seharian

Pengamat pasar uang, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih ada potensi melemah dalam beberapa hari mendatang.

"Hal ini menyusul serangkaian pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve. Sehingga menegaskan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan untuk menekan inflasi, yang meningkatkan daya tarik dolar AS di pasar global," katanya kepada IDN Times, Rabu (25/2/2026).

3. Pelemahan rupiah masih terbatas

Meski demikian, Lukman menilai, pelemahan rupiah kemungkinan akan bersifat terbatas dan pasar cenderung bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan terbaru terkait isu geopolitik.

"Pasar tunggu perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu geopolitik yang dapat memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar global.

Editorial Team