Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi uang dolar Amerika (pexels.com/Lukasz Radziejewski)
ilustrasi uang dolar Amerika (pexels.com/Lukasz Radziejewski)

Intinya sih...

  • Sejumlah mata uang di Asia menguat, termasuk rupiah.

  • Alasan rupiah menguat karena pulihnya sentimen pasar dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

  • Potensi penguatan rupiah terbatas karena ketegangan geopolitik antara China dan Jepang serta fluktuasi harga komoditas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan, Senin (24/11/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat ke level Rp16.999 per dolar AS per dolar AS.

Rupiah tercatat menguat 17 poin atau 010 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Sejumlah mata uang di Asia menguat

Lebih rinci, rupiah tidak menguat sendirian karena semua mata uang di kawasan Asia ikut menguat terhadap dolar AS, beberapa di antaranya:

  • Ringgit Malaysia menguat 0,18 persen 

  • Rupee India menguat 0,26 persen

  • Dolar Singapura menguat 0,24 persen

  • Bath Thailand melemah 0,29 persen 

  • Pesso Filipina melemah 0,07 persen

  • Won Korea melemah 0,30 persen

2. Alasan rupiah menguat

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah yang menguat hingga akhir perdagangan ditopang oleh pulihnya sentimen pasar setelah kekhawatiran terkait bubble kecerdasan buatan (AI) mereda dan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

"Sentimen eksternal mulai pulih terkait kekhawatiran bubble AI oleh meningkatnya harapan pemangkasan suku bunga oleh the Fed di bulan Desember oleh pernyataan dovish the Fed William," tegasnya.

3. Rupiah masih akan menguat terbatas

Meski demikian, potensi penguatan rupiah diperkirakan akan terbatas karena ketegangan geopolitik yang meningkat antara China dan Jepang dinilai dapat menekan sentimen terhadap aset berisiko di kawasan Asia.

Kondisi ini, ditambah dengan ketidakpastian di pasar global dan fluktuasi harga komoditas, berpotensi menahan pergerakan rupiah.

Editorial Team