Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Dibuka Menguat Tipis di Level Rp18.013 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka menguat 33 poin atau 0,18 persen ke level Rp18.013 per dolar AS pada perdagangan spot Selasa pagi.

  • Pengamat Lukman Leong memproyeksikan rupiah tetap tertekan akibat ketidakpastian global, meski respons pemerintah dan otoritas pasar modal terkait MSCI diharapkan memberi sentimen positif.

  • Eskalasi konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina berisiko menaikkan harga minyak, menekan neraca perdagangan serta rupiah yang diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada Selasa (20/10/2026) pagi. Mata uang Garuda dibuka pada level Rp18.013 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan kemarin.

1. Daftar mata uang yang menguat

Sederet mata uang di Asia terpantau menguat, dengan rincian sebagai berikut:

  • Rupee India menguat 33 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,03 persen.

  • Won Korea nenghat 5,12 persen

2. Rupiah diproyeksikan masih tertekan hari ini

Pengamat pasar uang, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar rupiah masih bergerak di bawah tekanan di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, langkah otoritas pasar modal dalam merespons persoalan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan mengeluarkan 80 saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diharapkan bisa memperkuat dan memberikan sentimen positif ke pasar modal.

Dengan adanya kebijakan yang diterapkan, perubahan harga saham-saham HSC tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut.

"Rupiah walau masih penuh ketidakpastian, namun langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham MSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan pada rupiah," kata Lukman.

3. Ekslasi konflik Timur Tengah kembali picu kekhawatiran

Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya dapat menekan rupiah.

Kenaikan harga minyak mentah berisiko meningkatkan beban impor energi Indonesia. Kondisi tersebut dapat memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan valuta asing, sehingga turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Dengan demikian, meski upaya pemerintah dan otoritas pasar modal untuk memperbaiki kepercayaan investor diharapkan memberikan dukungan terhadap rupiah, arah pergerakannya tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan dinamika pasar global.

"Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.950–Rp18.100 per dolar AS," ujar Lukman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article