Rupiah Diproyeksi Tertekan Pekan Depan, Masuk ke Rp18.250 per Dolar AS

- Rupiah diproyeksikan masih tertekan pekan depan dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS akibat penguatan indeks dolar.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara AS dan Iran, menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi nilai tukar serta mendorong investor mencari aset aman.
- Ibrahim memperingatkan rupiah bisa menyentuh Rp19.000 di akhir Juni jika konflik berlanjut dan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Jakarta, IDN Times – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan depan seiring potensi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, bahkan memperkirakan rupiah berpeluang bergerak mendekati level Rp18.250 per dolar AS dalam sepekan ke depan.
Menurut Ibrahim, indeks dolar AS berpotensi kembali menguat setelah diperdagangkan pada kisaran support 99,00 dan resistance 101,00.
Indeks dolar ini kemungkinan besar dalam satu pekan ke depan itu akan ditransaksikan di support 99.00, kemudian resisten di 101.00. Artinya apa? Ada kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat tajam," ujar Ibrahim dalam pernyataan resminya kepada media, Minggu (7/6/2026).
Penguatan indeks dolar biasanya menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
1. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.250

Ibrahim memperkirakan, rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar pada pekan depan. Tekanan eksternal dinilai masih mendominasi pergerakan mata uang Garuda.
"Untuk rupiah sendiri dalam satu pekan ke depan itu kemungkinan ditransaksikan di Rp17.950 sampai di Rp18.250," katanya.
Menurut dia, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global serta ekspektasi kebijakan moneter AS.
2. Geopolitik Timur Tengah menjadi pemicu utama

Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi fluktuasi dolar AS, harga minyak mentah, emas dunia, hingga rupiah adalah kondisi geopolitik. Saat ini, perhatian pasar tertuju pada meningkatnya tensi di Timur Tengah.
"Apa sih yang mempengaruhi fluktuasi indeks dolar, harga minyak mentah, rupiah, kemudian emas dunia dan logam mulia? Salah satunya adalah tentang masalah geopolitik," ujarnya.
Ibrahim juga menyoroti memanasnya hubungan antara AS dan Iran setelah adanya serangan terhadap fasilitas radar Iran di wilayah Selat Hormuz. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian pasar global dan mendorong investor mencari aset yang lebih aman, termasuk dolar AS.
3. Rupiah berisiko menyentuh Rp19.000 di akhir Juni

Ibrahim menilai, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar apabila konflik geopolitik terus berlanjut dan pasar semakin yakin bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99 persen itu akan di Rp19.000," ungkapnya.
Menurut Ibrahim, kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan harga komoditas akibat konflik geopolitik, serta kebijakan moneter ketat di AS berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dengan sejumlah sentimen tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan The Fed sebagai penentu utama pergerakan rupiah dalam beberapa pekan mendatang.


















