Kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam juga sedang tidak baik-baik saja. Universitas Michigan melaporkan rumah tangga di Amerika mulai pesimis, terlihat dari indeks sentimen konsumen bulan Maret yang turun ke angka 53,3 dari sebelumnya 55,5.
"Ekspektasi inflasi untuk dua belas bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada bulan Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen," ujar Ibrahim.
Situasi tersebut membuat pasar memprediksi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bakal mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga akibat tingginya harga energi.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026 kini mencapai 50 persen. Padahal, sebelum perang AS-Iran meletus, pasar sempat optimis akan ada dua kali penurunan suku bunga tahun ini.