ilustrasi transportasi umum di Jakarta, Indonesia (pexels.com/Alfatah Bilal Afdam)
Hal paling menarik dari situasi ini adalah Indonesia sebenarnya bukan negara dengan kondisi ekonomi buruk. Inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi relatif stabil, serta kebijakan bank sentral dianggap cukup kredibel dibanding banyak negara berkembang lain.
Menurut penelitian dari International Monetary Fund, negara berkembang dengan kebijakan ekonomi kredibel biasanya lebih tahan menghadapi penguatan dolar AS. Meski begitu, IMF juga memperkirakan kenaikan 10 persen dolar AS bisa memangkas output ekonomi negara berkembang hingga 1,9 persen dalam dua tahun. Dampaknya bisa terasa pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, turunnya investasi, hingga melemahnya daya beli masyarakat.
Pelemahan rupiah kali ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi global sudah berubah jauh dibanding era krisis Asia dulu. Bank Indonesia memang masih punya banyak instrumen untuk menjaga stabilitas mata uang, tapi tekanan global sekarang jauh lebih kompleks. Perang, perubahan geopolitik, hingga proses de-dolarisasi membuat pola lama ekonomi dunia mulai kehilangan efektivitasnya.
Kalau negara dengan fundamental ekonomi cukup baik seperti Indonesia saja masih kesulitan mempertahankan nilai mata uangnya, artinya masalah ini memang bukan persoalan sederhana. Ke depannya, Indonesia dan banyak negara berkembang lain kemungkinan perlu membangun sistem keuangan baru yang lebih kuat supaya gak terus bergantung pada dolar AS.