Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Saat Rupiah Tertekan, Kenali Faktor-Faktor yang Bisa Memicu Inflasi!
ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpotensi memicu inflasi karena harga barang impor dan bahan baku industri menjadi lebih mahal bagi konsumen dalam negeri.
  • Inflasi juga didorong oleh meningkatnya permintaan barang dan jasa, kenaikan harga bahan baku, serta pertumbuhan jumlah uang beredar yang melampaui laju ekonomi.
  • Faktor lain seperti defisit anggaran, ekspektasi inflasi masyarakat, dan potensi krisis moneter turut memperkuat tekanan harga di pasar domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
kini

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, menimbulkan potensi tekanan inflasi di dalam negeri. Pelemahan ini meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal, sehingga perlu diwaspadai oleh pemerintah dan otoritas moneter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menimbulkan potensi peningkatan tekanan inflasi di dalam negeri akibat kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri.
  • Who?
    Pelaku ekonomi, termasuk masyarakat, pelaku usaha, serta otoritas moneter dan fiskal yang memantau serta mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi nasional.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di Indonesia, dengan pengaruh utama pada sektor perdagangan, industri, dan pasar keuangan domestik.
  • When?
    Situasi berlangsung saat nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat; waktu pasti perubahan nilai masih terus berkembang.
  • Why?
    Penyebabnya meliputi naiknya permintaan barang dan jasa, kenaikan harga bahan baku, bertambahnya uang beredar, defisit anggaran melebar, ekspektasi inflasi tinggi, serta pelemahan kurs rupiah.
  • How?
    Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor dan produksi sehingga harga barang naik; efek lanjutan muncul melalui penyesuaian harga oleh produsen dan meningkatnya ekspektasi inflasi di masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah dan potensi inflasi dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi nasional. Dengan memahami berbagai faktor pemicunya—dari permintaan domestik hingga ekspektasi harga—pemerintah dan otoritas moneter memiliki dasar yang lebih jelas untuk merancang langkah stabilisasi yang tepat dan menjaga ketahanan ekonomi secara menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri.

Kondisi ini terjadi karena depresiasi rupiah dapat membuat harga barang impor dan bahan baku industri menjadi lebih mahal yang pada akhirnya dapat diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

Lalu, faktor apa saja yang mendorong naiknya inflasi?

1. Naiknya permintaan barang dan jasa

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Kondisi ini membuat permintaan barang dan jasa meningkat dan melebihi pasokan yang tersedia.

Ketika permintaan masyarakat tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan produsen memenuhi kebutuhan tersebut, harga cenderung mengalami kenaikan. Kondisi ini biasanya terjadi saat pendapatan masyarakat meningkat, jumlah penduduk bertambah, atau terjadi perubahan pola konsumsi.

2. Kenaikan harga bahan baku

Pedagang cabai di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Aceh. (IDN Times/Mhd Saifullah)

Kenaikan harga bahan baku juga menjadi pemicu inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation).

Harga energi seperti minyak dan gas maupun komoditas pertanian yang lebih mahal akan meningkatkan biaya produksi perusahaan.

Beban biaya tersebut umumnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual produk.

3. Bertambahnya uang yang beredar

Ilustrasi berbagai nominal mata uang rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)

Jika pertumbuhan jumlah uang beredar lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi, maka daya beli uang dapat menurun sehingga harga barang dan jasa cenderung naik.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama.

4. Defisit anggaran melebar

Konpers APBN KiTa edisi April 2026. (IDN Times/Triyan)

Defisit anggaran pemerintah juga dapat berkontribusi terhadap tekanan inflasi.

Pada negara berkembang, kebutuhan pembiayaan pembangunan yang tinggi sering kali menyebabkan kesenjangan antara penerimaan dan pengeluaran negara. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan harga dalam perekonomian.

5. Ekspektasi inflasi

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Di samping itu, ekspektasi inflasi turut memainkan peran penting. Ketika pelaku usaha dan masyarakat memperkirakan harga akan terus naik di masa depan, mereka cenderung menaikkan harga barang dan jasa atau meminta kenaikan upah.

Kondisi ini dapat menciptakan efek berantai yang membuat inflasi benar-benar terjadi dan semakin tinggi.

6. Krisis moneter

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Depresiasi nilai tukar yang tajam membuat biaya impor meningkat, sedangkan gangguan pada sektor keuangan dapat menghambat aktivitas ekonomi dan distribusi barang. Akibatnya, harga-harga di pasar berpotensi mengalami kenaikan.

Dalam konteks saat ini, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal. Meski demikian, besarnya dampak terhadap inflasi akan sangat bergantung pada kondisi permintaan domestik, kebijakan pemerintah, serta langkah stabilisasi yang ditempuh oleh otoritas moneter dan fiskal.

Editorial Team

Related Article