Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sanksi Baru, AS Ancam Bekukan Aset hingga Halau Bisnis di Kuba
suasana di Havana, Kuba (unsplash.com/dmrschmidt)
  • Presiden AS Donald Trump umumkan sanksi baru terhadap Kuba, termasuk pembekuan aset dan larangan masuk bagi pejabat Kuba sebagai langkah melindungi kepentingan nasional AS.
  • Sanksi menargetkan sektor energi, pertahanan, pertambangan, dan keuangan Kuba; individu atau lembaga asing yang berbisnis dengan Kuba terancam pemblokiran aset serta penutupan akses dolar AS.
  • Pemerintah Kuba menolak intervensi AS dan menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk agresi baru, sementara institusi keuangan asing diperingatkan agar tidak menjalin hubungan bisnis dengan Kuba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan akan meningkatkan sanksi kepada Kuba. Sanksi baru ini berupa menggalakkan pembekuan aset dan melarang masuknya pejabat Kuba ke AS. 

“Aksi ini menunjukkan adanya ancaman luar biasa kepada keamanan dan kebijakan luar negeri AS. Maka dari itu, kami harus merespons untuk melindungi warga negara AS dan kepentingannya,” tuturnya, dikutip dari EFE, Minggu (3/5/2026).

Tak hanya itu, kebijakan baru AS ini juga berisi ancaman kepada institusi keuangan asing yang berbisnis dengan Kuba.

Beberapa bulan terakhir, AS sudah memblokir pengiriman minyak ke Kuba. Alhasil, negara Karibia tersebut terdampak krisis energi terburuk. 

1. Sanksi baru menargetkan sektor ekonomi penting di Kuba

ilustrasi ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

Sanksi baru dari AS ini menargetkan sektor ekonomi penting di Kuba, terutama energi, pertahanan, pertambangan, dan jasa keuangan. Sesuai peraturan baru, semua individu dan perusahaan yang beroperasi di sektor tersebut dan berbisnis dengan Kuba, maka asetnya di AS akan diblokir.

Selain itu, bank dari negara lain yang memfasilitasi transaksi dengan individu di Kuba akan terdampak. Akun mereka di Wall Street atau operasional dengan mata uang dolar AS akan ditutup. 

Tak hanya itu, siapa pun yang terlibat dalam bisnis dengan Kuba akan dilarang masuk ke AS. Keputusan ini menjadi sanksi lanjutan kepada rezim Kuba yang melibatkan seluruh pihak. 

2. Kuba tolak intervensi AS di negaranya

ilustrasi warga memegang bendera Kuba (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)

Menanggapi sanksi baru, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez menolak segala bentuk intervensi dari AS. Ia menyebut, Kuba tidak boleh membiarkan negaranya diintimidasi oleh AS.

“Kami, warga Kuba tidak boleh membiarkan diri kami diintimidasi. Kami akan merespons untuk rakyat dan mendapatkan dukungan mereka lewat revolusi yang ditunjukkan pada perayaan Hari Pekerja Internasional,” terangnya. 

Rodriguez menyebut bahwa sanksi baru ini sama dengan ancaman agresi militer baru dari AS. Menurunnya, tingkat ancaman ini sudah mencapai tingkat yang berbahaya. 

3. Peringatan untuk institusi keuangan asing di Kuba

bendera China (Pexels.com/J.D Books)

Dilansir CBS News, kebijakan baru AS ini adalah peringatan kepada institusi keuangan asing yang berbisnis dengan Kuba. Mereka diancam tidak lagi mendapat akses ke pasar AS jika masih berhubungan dengan Kuba. 

Profesor Studi Kuba di Universitas Miami, Andy Gomez mengatakan, kebijakan ini memiliki implikasi geopolitik yang luas. Menurutnya, kebijakan baru ini adalah peringatan keras kepada negara-negara, seperti Rusia dan China untuk tetap menjaga jarak dengan Kuba. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team